Selasa, 17 November 2009
Kamis, 29 Oktober 2009
PEREKONOMIAN DAN PASAR FINANSIAL INDONESIA 2009
Evaluasi paro pertama, prospek paro kedua dan jangka panjang
Prof. Roy Sembel, Ph.D
(Dekan UPH Business School, Chief Research Officer CAPITAL PRICE)
dan Tim CAPITAL PRICE: DR. Perdana Wahyu Santosa, Deddy Ertanto, Rahmadita Gayuh D, RR Evie)
Tanpa terasa, enam bulan telah lewat di tahun 2009. Krisis ekonomi global telah menjadi bagian dari percakapan banyak orang, mulai dari rakyat jelata, isu kampanye caleg dari banyak parpol, sampai pada perdebatan calon presiden/wakil presiden. Kejutan pada sisi negatif dan positif menandai perekonomian dan pasar finansial pada paro pertama 2009.
Efek Pendulum
Bandul atau pendulum berayun dari posisi paling kiri ke posisi paling kanan, dan kembali lagi ke posisi paling kiri, dan seterusnya. Fenomena alam tersebut tampaknya sedang terjadi di pasar finansial dan perekonomian Indonesia. Setelah mengalami pertumbuhan yang relatif bagus selama tahun 2006, 2007, dan paro pertama 2008, ekonomi Indonesia mulai terkena dampak krisis ekonomi dunia pada paro kedua 2008, khususnya pada kwartal terakhir 2008.
Akibat keluarnya uang panas (hot money) secara besar-besaran pada kwartal keempat 2008, pasar finansial Indonesia pun anjlok. Setelah naik 55,3% pada tahun 2006, dan naik lagi 52,1% pada tahun 2007, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun 50,7% selama tahun 2008. Pada paro pertama 2009 (sampai dengan akhir bulan Juni 2009), pendulum kembali mengayun ke teritori positif, dengan kenaikan IHSG sebesar 50,1%.
Setelah stabil di level Rp 9000 – Rp 9500 selama 2 tahun sejak pertengahan 2006 sampai pertengahan 2008, kurs dollar AS naik ke level Rp 12 ribu pada akhir 2008. Pada kwartal kedua 2009, rupiah kembali menguat terhadap dollar AS, bahkan sempat turun ke bawah level Rp 10.000/US$, sebelum ditutup di level Rp 10.200 /US$ pada akhir Juni 2009.
Efek bandul atau pendulum juga terjadi pada indikator ekonomi makro. Inflasi, yang pada tahun 2008 menembus angka digit ganda di atas 11%, pada paro pertama menjadi sangat rendah, yaitu hanya 0,21%. Dengan indikator inflasi yang rendah, suku bunga acuan BI pun telah diturunkan dari level 9,25% pada akhir Desember 2008 menjadi 7% pada akhir Juni 2009.
Meski indikator yang terkait dengan sektor finansial telah berayun ke sisi pemulihan, beberapa indikator di sektor riil masih belum mengikuti. Sebagai contoh, menurut data BPS, selama 5 bulan pertama tahun 2009, ekspor Indonesia turun hampir 30% dibanding periode sama 2008. PHK dan angka pengangguran masih mengkhawatirkan.
Pembahasan efek bandul belumlah lengkap tanpa mengutip pergerkan harga minyak dunia. Harga minyak dunia yang pada tahun 2008 sempat mencapai rekor tertinggi US$147/barel, berbalik turun dan sempat berada pada level di bawah US$ 40 / barel. Ekspektasi pemulihan ekonomi membuat harga minyak dunia kembali naik ke level US$ 70 / barel pada pertengahan tahun 2009.
Perkembangan ekonomi dunia juga masih dibayang-bayangi oleh dampak krisis keuangan (subprime mortagage) yang berawal dari Amerika Serikat (AS) . Krisis yang melanda AS ini tidak hanya berimbas pada AS sendiri, namun dampaknya telah menjalar ke berbagai negara di dunia. Ketidakpastian yang melanda dunia menyebabkan IMF dan Bank Dunia telah berkali kali merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi dunia. Pada tahun 2009, diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS, negara-negara Uni Eropa, Jepang, dan Inggris menjadi negatif.
Di regional Asia Tenggara pun, negara-negara yang selama ini dianggap tangguh seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, telah menderita pertumbuhan ekonomi negatif pada kwartal pertama 2009. Bahkan Singapura yang selama ini dianggap motor penggerak Asia Tenggara justru mengalami pertumbuhan paling parah, yaitu sekitar minus 10%. Rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup tinggi pada ketiga negara tersebut justru menjadi bumerang dalam situasi krisis global saat ini.
Prospek 2009
Untuk tahun 2009, prediksi pertumbuhan ekonomi yang masih relatif bagus ada pada negara dengan pasar domestik cukup besar, seperti China (+7%), India (+5,5%), dan Indonesia (+4%). Untuk Indonesia, selain faktor pasar domestik yang cukup besar dan relatif kuat, belanja pemerintah menjadi penopang perekonomian domestik. Suntikan dana ke dalam sistem perekonomian terkait dengan penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilihan presiden tampaknya menjadi salah satu buffer yang meredam dampak negatif imbas krisis ekonomi dunia.
Dibanding dengan paro pertama 2009, paro kedua 2009 diperkirakan akan ditandai dengan tekanan inflasi lebih tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia ke level di atas US$ 70 / barel. Kendati begitu, inflasi setahun penuh untuk tahun 2009 diperkirakan akan bisa dipertahankan di bawah level 5% karena paro pertama 2009, inflasi telah mencapai rekor terendah hanya 0,21%.
Sejalan dengan kecenderungan turunnya inflasi, BI rate diperkirakan juga akan mengalami penurunan. BI rate diperkirakan akan turun sepanjang tahun 2009 hingga menjadi sekitar 6,5 persen. Penurunan BI rate ini penting terutama untuk mendorong pertumbuhan di sektor rill agar pertumbuhannya tidak makin melambat. Sementara itu untuk kurs valas, pada tahun 2009 kurs rupiah terhadap US dollar diperkirakan akan menguat dibanding kwartal ketiga 2009, dan stabil di level sekitar Rp 10.000/US$.
IHSG 2009: How High Can It Go
Terkait dengan efek pendulum, berdasarkan data historis selama 30 tahun terakhir, kenaikan ekstrim (di atas 50%) untuk IHSG pernah terjadi di tahun 1993 (+114,6%), 1999 (+70,1%), 2003 (+65,8%), 2006 (+55,3%), dan 2007 (+52,8)%. Menggunakan angka median dari angka-angka ekstrim tersebut (yaitu +65,8%), maka IHSG masih menyimpan potensi untuk naik menjadi sekitar 2250. Dengan suku bunga mencapai level rekor terendah, bila suku bunga bisa dipertahankan di level rendah, bukan tidak mungkin fenomena efek pendulum yang lebih ekstrim dari angka median tersebut bisa terealisasi.
Tambahan pula, berdasarkan pengalaman beberapa pemilu terakhir, bila pemilu berjalan relatif aman, maka IHSG cenderung menguat. Kita berharap bahwa pemilihan presiden di bulan Juli 2009 ini akan berjalan lancar. Dengan demikian, IHSG akan mendapat momentum lebih kuat untuk naik dan perekonomian akan lebih cepat pulih.
Sementara itu, berdasarkan data jangka panjang 1978-2009, rata-rata return per tahun IHSG adalah 19,35%. Angka ini sangat fantastis karena belum memperhitungkan pembayaran dividen.
Implikasi Bagi Investor
Berdasarkan
Jadi, di tengah prospek yang bagus tersebut, tentu investor harus tetap waspada untuk memperhatikan informasi fundamental jangka panjang dalam berinvestasi. Selain itu, efek pendulum bisa terjadi dua arah: dari negatif ke positif dan dari poistif ke negatif. Kendati begitu, dalam jangka panjang bila investor berinvestasi secara konsisten pada perusahaan dengan fundamental bagus, maka potensi nilai tambah jangka panjang akan tetap bagus. Sekali lagi, kuncinya adalah berinvestasi berdasarkan analisis fundamental yang solid. Mulai minggu depan, di rubrik ini akan disarikan analisis kinerja jangka panjang dari emiten-emiten terpilih di Bursa Efek
Rabu, 28 Oktober 2009
MASALAH EVA dan ROIC PT CIPUTRA DEVELOPMENT, Tbk
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE
PT Ciputra Development Tbk adalah perusahaan di bidang properti dan real estate. Listing di IDX pada tanggal 28 Maret 1994, dengan kode CTRA berada pada properti, real estate, dan konstruksi bangunan, dengan sub sektor properti dan real estate. Komposaisi kepemilikan sahamnya dimiliki PT Sang Pelopor (35,22%), Credit Suisse Singapore (7,99%), dan Rollic Holding Limited (5,25%), sisanya dimiliki publik.
Sampai saat ini PT Ciputra Development telah mengembangkan dan mengelola 21 properti perumahan dan komersial yang tersebar di 14 kota besar di seluruh Indonesia. Properti komersial yang telah dikembangkan meliputi pusat perbelanjaan, hotel, apartemen servis dan lapangan golf. Ciputra Development memiliki 5 anak perusahaan, dengan 2 diantaranya telah go public, yaitu PT Ciputra Surya Tbk dan PT Ciputra Property Tbk. Yang lainnya adalah PT Ciputra Residence, PT Ciputra Indah, dan PT Ciputra Graha Mitra.
Salah satu indikator analisis keuangan penting bagi perusahaan adalah ROIC dan EVA yang terkait dengan biaya modal (cost of capital) yang terdiri dari bobot biaya ekuitas dan utang. ROIC merupakan ukuran efektivitas perusahaan dalam menggunakan total uang (modal) dalam kegiatan operasionalnya, sebagai tingkat pengembalian perusahaan dari kegiatan operasionalnya terhadap modal yang telah diinvestasikan, sedangkan EVA merupakan economic profit yang didasari bahwa suatu bisnis harus mampu memberikan pengembalian yang telah menutupi biaya operasional dan biaya modal. Semakin tinggi EVA/IC maka semakin baik memampuan perusahaan dalam memaksimalkan penghasilan dari potensi modal yang dimilikinya.
Analisis biaya modal (Cost of capitalCOC) perusahaan menunjukkan tren menurun selama 2002-2004, dari 14,24% (2002) menjadi 7,63% ( 2004), kemudian mengalami peningkatan hingga mencapai 23,33% pada 2008. Return on invested capital (ROIC) perusahaan berfluktuasi hingga mencapai 5,80% pada 2007. Sejak tahun 2005 EVA perusahaan juga terus mengalami penurunan yang menunjukkan nilai tambah ekonomi yang diciptakan perusahaan terus berkurang. Hal ini menggambarkan kemampuan manajemen memaksimalkan penghasilan dari modalnya semakin merosot.
Sumber: CAPITAL PRICE (2009)
Rendahnya nilai EVA dapat disebabkan oleh beberapa faktor terutama beban biaya produksi dan tergerusnya Net Profit Margin sekalipun sales meningkat. Masalah Efisiensi dan beban biaya modal dinilai memberikan pengaruh terhadap masalah EVA ini sehingga harus diberi perhatian khusus.
Maka beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan adalah:
• Untuk mengatasi masalah material, perseroan melakukan value engineering; dengan membeli material awal. Melalui anak perusahaannya, perusahaan melakukan pembelian material sebanyak 5.000 ton, dari total kebutuhan 7.500 ton dengan biaya sekitar Rp60 miliar. Sementara untuk kredit KPR, perusahaan mengalihkan kerjasama dari Bank Mandiri ke Bank BCA yang lebih kompetitif.
• Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan bahwa perusahaan tidak membagikan dividen untuk tujuan ekspansi agar operasi bisnis memenuhi skala ekonomi yang lebih baik.
• Menggarap proyek luar Jawa seperti Proyek residensial di Pangkal Pinang merupakan bagian dari rencana perusahaan untuk membangun perumahan mewah setiap propinsi di Indonesia. Di luar Jawa, perusahaan telah memiliki enam proyek di Lampung, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Palembang, dan Makasar.
• Grup perusahaan berencana mencatatkan perusahaannya (berkedudukan di Singapura) pada bursa efek Singapura dan Hongkong untuk mendapatkan akses modal ekuitas dan obligasi yang lebih besar.
Visit:
http://www.capitalprice.co
http://wisdomarket.blogspo
Selasa, 13 Oktober 2009
MENCIPTAKAN KESEMPATAN DI TENGAH KRISIS
Prof. Roy Sembel, Ph.D
Dekan Business School, Direktur Program Pascasarjana UPH (www.uph.edu)
Chief Research Officer, CAPITAL PRICE (www.capitalprice. com)
Ekonomi dunia telah menjelma menjadi ekonomi baru. Fenomena ekonomi baru (The New Economy), telah dimulai sejak revolusi informasi melanda dunia pada kuartal keempat dari abad ke 20. Berbeda dengan revolusi industri yang mengubah wajah dunia dengan menurunkan biaya transformasi dari bahan
Biaya interaksi merupakan uang dan waktu (biaya eksplisit dan biaya implisit) yang digunakan saat orang atau perusahaan saling bertukar barang, jasa, atau gagasan. Pertukaran tersebut bisa terjadi di dalam perusahaan, antar perusahaan, dan antara perusahaan dan konsumen. Interaksi mencakup pencarian (searching), koordinasi, dan pemantauan. Konsep biaya interaksi pada awalnya dikembangkan oleh pemenang Nobel Ekonomi Prof. Ronald Coase, dan dipoles lebih lanjut oleh Prof. Oliver Williamson (disebut sebagai biaya transaksi), serta disempurnakan oleh beberapa konsultan senior McKinsey & Co (http://www. mckinsey. com).
Dalam konteks ekonomi baru, ada empat mega tren yang relevan: digitisasi, mobilitas modal, liberalisasi (disingkat DML), dan akhir-akhir ini ditambah lagi dengan standardisasi (menjadi DMLS). Keempat faktor inilah yang menyulut Revolusi Informasi yang menyebabkan aset fisik (tangible assets) tidak lagi menjadi tumpuan utama bagi masa depan perusahaan. Mekanismenya adalah melalui penurunan biaya interaksi, percepatan globalisasi, dan peningkatan insentif untuk menjadi inovatif dan efisien.
Di satu sisi, tren ekonomi baru membuka peluang baru yang sangat besar. Sebagai contoh, saat ini sudah lebih dari 1 milyar penduduk dunia terhubung dengan teknologi informasi dan telekomunikasi. Di Indonesia saja, statistik terakhir menunjukkan bahwa total pelanggan ponsel di Indonesia telah menembus angka 100 juta. Pasar maya yang tercipta sangat besar.
Pertumbuhan pesat di bidang hardware, software, content (misalnya,electronic paper, blackberry, google, facebook, mobile content provider /broadcaster, dll) semakin mengukuhkan peran dan penting potensi besar pasar nirwujud ini.
Namun di sisi lain, peningkatan globalisasi akibat tren DMLS ini, juga meningkatkan risiko secara signifikan. Hot money yang bersliweran di pasar finansial dunia bergerak demikian mudah dan cepatnya. Pada caturwulan terakhir tahun 2008 saja, telah lebih dari Rp 100 triliun uang panas hengkang dari pasar finansial Indonesia. Akibatnya, nilai rupiah terhadap dolar AS anjlok sekitar 30% dan cadangan devisa Indonesia turun dari titik tertinggi US$ 60 milyar menjadi US$ 50 milyar.
Memaknai tren krisis
Peneliti Bank Dunia, Gerard Caprio dan Daniela Klingebiel, mengungkapkan bahwa fenomena krisis di dunia ini terus meningkat jumlahnya dari dekade ke dekade. Pada dekade 80-an, mereka mengidentifikasi telah terjadi 45 krisis serius di tingkat dunia. Pada dekade 90-an, jumlahnya meningkat menjadi 65. Dekade 2000-an memang belum selesai, namun kita sudah mengalami banyak sekali krisis dengan intensitas yang jauh lebih dalam.
Badai krisis ekonomi dan finansial yang melanda dunia saat ini memang luar biasa. Lebih dari Rp 160 ribu triliun menguap dari bursa saham seluruh dunia di tahun 2008. Angka itu lebih tinggi dibandingkan total nilai barang dan jasa final yang dihasilkan di Amerika Serikat sepanjang tahun 2008 (yaitu sekitar US$ 13 triliun, atau Rp 150 ribu triliun). Indeks harga saham acuan di AS, yaitu DJIA, sempat anjlok ke level terendah sejak 1997. Sementara itu, indeks saham Jepang (Nikkei) bahkan sempat anjlok ke level terendah sejak 25 tahun terakhir.
Dalam tataran domestik Indonesia, situasinya juga mengkhawatirkan. Bulan lalu (Februari 2009), data BPS menunjukkan bahwa ekspor Indonesia sudah anjlok 36% (year-on-year). Tahun lalu, berdasarkan riset dari CAPITAL PRICE (http://www. capitalprice. com) lebih dari 60% (senilai lebih dari Rp 1150 triliun) kemakmuran investor saham di Bursa Efek Indonesia lenyap selama 10 bulan dari Januari 2008 sampai dengan akhir Oktober 2008. Dari sisi angka rupiahnya, kerugian Rp 1150 triliun itu lebih besar dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2009, yaitu sebesar sekitar Rp 1000 triliun.
Berdasarkan statistik (frekuensi dan kedalaman) krisis di atas, tampaknya kita memang harus bersiap menghadapi krisis yang semakin sering dan mungkin sekali semakin dahsyat. Krisis bisa dimaknai sebagai gelas setengah kosong atau setengah penuh. Krisis berdampak buruk menurunkan kemakmuran baik bagi perusahaan maupun bagi negara. Kendati begitu, kita dapat belajar banyak dari krisis. Mungkin sekali, saat situasi normal dan baik, kita tidak menyadari kelemahan kita. Kita menjadi terlena dan berpikir bahwa semua hal yang kita lakukan sudah benar. Kenyataannya, ada banyak kelemahan kita yang tertutup oleh faktor eksternal yang sedang positif.
Krisis membuka mata kita bahwa ada banyak hal yang belum kita lakukan secara benar atau hal yang benar di masa lalu belum tentu tetap benar di era yang telah berubah. Kita perlu menguji kembali asumsi yang pernah kita gunakan sewaktu merancang strategi dan rencana aksi di masa lalu. Atau, mungkin juga selama ini bisnis kita berkembang secara kebetulan atau by accident. Intinya, di tengah krisis inilah saatnya bagi kita untukback to basics untuk membangun bisnis dengan dasar dan kerangka yang solid.
Back to basics
Langkah awal untuk membangun bisnis yang kokoh adalah melakukan evaluasi terhadap situasi saat ini dalam konteks perkembangan historis dan skenario masa depan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui situasi internal (kekuatan, kelemahan), dan memaknai situasi eksternal (kesempatan, dan tantangan), atau terkenal dengan analsis SWOT (Strenghs, Weaknesses, Opportunities, Threats).
Langkah kedua adalah penetapan tujuan atau masa depan yang diinginkan, yaitu visi, misi, dan target jangka pendek, menengah dan panjang. Visi dan misi perlu dibuat selayaknya impian yang menggugah semangat, namun perlu diterjemahkan ke dalam target jangka pendek, menengah dan panjang yang membumi (SMARTER = Specific, Measurable, Actionable, Realistic, Time Bound, Encouraging, dan Rewarding).
Berdasarkan langkah pertama dan kedua itu kemudian dirancang langkah ketiga, yaitu penetapan grand strategy yang menjadi koridor bagi rencana tindak selanjutnya. Agar strategi bisa diimplementasikan dengan baik, perusahaan perlu menjalankan langkah keempat, yaitu membangun kapasitas yang diperlukan, yaitu infrastruktur keras (hardware), insfrastruktur lunak (software), peningkatan SDM (brainware), komunikasi dengan stakeholder (marketware), leadershipyang solid dan bericiri good governance, serta budaya perusahaan yang berorientasi penciptaan nilai tambah secara berdampak besar dan berkelanjutan (sustainable and significant value creation).
The proof of the pudding is in the eating. Ujian yang sesungguhnya adalah saat implementasi. Kerja keras, kerja cerdas, dan kerjasama tim (hard work, smart work, dan team work) diperlukan untuk meningkatkan peluang tercapainya masa depan yang diinginkan. Itulah langkah kelima dalam sistem penciptaan nilai tambah.
Selanjutnya, untuk melengkapi sistem penciptaan nilai tambah tersebut, perlu dilakukan langkah keenam, yaitu pengukuran dan pemantauan terhadap hasil implementasi. Are we on the right track? Bila sudah berada pada rel yang benar seperti yang telah direncanakan, apakah kita sudah mencapai target antara? Bila tidak, perlu dicari akar permasalahan yang menyebabkan ketidak sesuaian antara rencana dan kenyataan.
Dengan menjalankan keenam langkah value creating system tersebut, perusahaaan akan lebih siap dalam menghadapi dan mengantisipasi krisis sehingga penciptaan nilai tambah dapat terjadi dengan dampak yang besar dan secara berkelanjutan.
Minggu, 27 September 2009
Memprediksi Harga Crude Oil 2009
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE
Wakil Dekan FE Universitas Yarsi
Harga Crude Oil dunia berkorelasi signifikan dengan pergerakan indeks pasar global, terutama terhadap Dow Jones dan nilai tukar US$. Selama periode 2009, harga crude oil yang sempat terpuruk di bawa US$ 40 perbarrel mengalami peningkatan tajam hingga menembus level US$ 70 perbarrel. Meroketnya harga crude oil tersebut dipengaruhi berbagai faktor fundamental ekonomi dunia terutama indikator pemulihan ekonomi AS yang mengalami krisis berat.
Survey yang dilakukan University of Michigan/Reuters menunjukkan bahwa US consumer juga mendukung kenaikan harga minyak dunia. Ini merupakan sentiment yang rasional, namun analisis fundamental ekonomi global belum menunjukkan pemulihan permintaan (demand) yang berarti. Kondisi ini membuat harga crude oil berfluktuasi pada kisaran US$ 65-75 perbarrel. Saat ini, crude oil berada pada level US$ 66,02 perbarrel.
Memanasnya kondisi geopolitik antara AS-Iran terkait dengan program nuklir Iran juga berpotensi meningkatkan harga crude oil dunia. Krisis nuklir ini bepotensi memutuskan supply chain dari Hormuz Strait yang mengalirkan sekitar 40% kebutuhan minyak dunia. Bahkan jika masalah geopolitik ini terus memanas tentunya akan memngganggu pemulihan ekonomi global keseluruhan. Namun para analis berpendapat bahwa OPEC dan produsen lainnya akan segera meningkatkan kapsitas produksinya untuk menjaga stabilitas harga crude oil. Di prediksi harga crude oil akibat masalah geopolitik program nuklir Iran hanya mendongkrak harga hingga level US$ 80 perbarrel.
Fluktuasi harga crude oil pada kisaran US$ 65-75 perbarrel merupakan salah satu peluang untuk melakukan trading jangka pendek yang menjanjikan. Di samping itu, indicator ekonomi makro gobal dan AS seperti jobs claim, sales housing, manufacturing dll juga merupakan variabel-variabel penggerak indeks yang saling terkait.
Salam Investasi dan happy trading…..
Selasa, 30 Juni 2009
PT Berlian Laju Tanker Tbk
Oleh : PERDANA WAHYU SANTOSA
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE
Artikel ini pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia hal F2 Senin 13 April 2009 dan menjadi materi Talk Show Capital Market Review di PAS FM 92,4
Profil emiten
PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), yang mulai beroperasi pada tahun 1981, bergerak dalam bidang jasa pelayaran/angkutan laut dengan konsentrasi pada angkutan muatan bahan cair baik dalam kawasan Indonesia maupun Asia, Eropa dan Amerika. Per 31 Desember 2008, pendapatan usaha BLTA berasal dari kapal yang dimiliki (72,5%), kapal yang disewa (27,32%), jasa perantara perkapalan (0,09%), dan jasa penyimpanan (0,08%).
Profil sektor transportasi
Jasa pelayaran/angkutan laut memegang peran penting yaitu sebesar 99% dari berat total muatan ekspor impor dari perpindahan barang dalam negeri dilakukan melalui laut (data Dewan Kelautan Indonesia). Sektor transportasi menyumbang terhadap pertumbuhan sekitar Rp19 triliun per annum atau sebesar 3,69% dari Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV 2008.
Sektor ini memperoleh insentif dari pemerintah berupa munculnya kebijakan pemerintah (instruksi presiden No. 5/2005 dan surat keputusan bersama (SKB) No. 20/MDAG/PER/4/2006) yang mengatur transportasi laut supaya masuknya barang-barang impor ke dalam negeri harus diangkut dengan kapal Indonesia, sekaligus mengurangi dominasi kapal asing.
Highlights 2002-2009
Sampai dengan perdagangan 7 April 2009, saham BLTA ditutup di posisi Rp600 per lembar saham. Pada Desember 2007-Januari 2008, saham BLTA sempat berada pada level tertingginya yaitu Rp2.675 per lembar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp27 miliar.
Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah
Sepanjang 2002-2008, BLTA mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 40,38%. Profitabilitas BLTA juga meningkat dengan CAGR sebesar 45,86% untuk operating profit dan 56,39% untuk net income.
| Growth 2002-2008 | |||
| | CAGR | | CAGR |
| Sales | 40.38% | Total Equity | 34.46% |
| Operating Profit | 45.86% | Total Assets | 45.89% |
| Net Income | 56.39% | | |
CAGR: Compound Annual Growth Rate
Sales BLTA terus meningkat hingga mencapai level tertingginya pada 2008 yaitu sebesar Rp7 triliun seiring ekspansi armada BLTA dan dukungan pemerintah dalam mengangkut barang-barang impor oleh kapal domestik. Walaupun sempat menurun sejak 2006, marjin laba bersih (net profit margin (NPM)), mewakili tingkat efektivitas perusahaan dalam mengelola biaya-biaya untuk mengkonversi sales menjadi net income, BLTA cenderung stabil sejak 2007 hingga menjadi sebesar 22,24% pada 2008.
BLTA membukukan CAGR total assets dan total equity masing-masing sebesar 45,89% dan 34,46%. Selama 2002-2008, debt-to-assets ratio (DAR), yang mewakili penggunaan hutang dalam proporsi aset BLTA, berfluktuasi pada kisaran 61,48%-83,96%, hingga mencapai sebesar 76,39% pada 2008.
Walaupun sempat menurun dari level tertingginya pada 2006 (38,49%), return on equity (ROE) perusahaan mulai meningkat dari 22,89% (2007) menjadi sebesar 26.42% pada 2008. Demikian pula, return on assets (ROA) BLTA menjadi sebesar 6,24% pada 2008, meningkat dari tahun sebelumnya (3,67). ROE menggambarkan ukuran profitabilitas perusahaan atas uang yang diinvestasikan oleh pemegang sahamnya. Adapun ROA menggambarkan ukuran profitabilitas relatif terhadap keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan, juga menggambarkan tingkat efisiensi manajemen perusahaan dalam menggunakan aset perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Total assets turnover (TAT) BLTA sempat mengalami penurunan antara tahun 2006-2007, namun kembali meningkat sejak 2007 dari 0,18 menjadi 1,28 (2008). Rasio TAT mewakili ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset yang dimiliki untuk menghasilkan sales. Semakin tinggi rasio TAT semakin efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya.
Market Multiple
Price-earnings ratio (PER) menjelaskan ekspektasi pasar terhadap perusahaan; semakin tinggi PER, semakin tinggi pasar bersedia membayar untuk tiap rupiah pendapatan tahunan yang dihasilkan perusahaan. CAPITAL PRICE mengidentifikasi adanya abnormalitas berupa over expectation pada saham BLTA dimana PER melonjak dengan level tertinggi pada 2006. Namun PER BLTA kembali stabil berada pada level 6,57 (2007) dan 10,90 (2008). Price to book value (PBV) menjelaskan besarnya premium (tambahan keuntungan) yang bersedia dibayarkan oleh pasar di atas nilai buku ekuitas perusahaan. Antara tahun 2003-2006, PBV BLTA berfluktuasi pada kisaran 1,01-3,01, hingga menjadi sebesar 2,49 pada 2008.
Sumber: CAPITAL PRICE
Market Value Added dan Risk
Kinerja saham perusahaan berfluktuasi dimana sejak periode 2006, shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) perusahaan berada di atas 149%, dengan nilai tertinggi sebesar 200,97% (2006). Rata-rata return (annualized) saham perusahaan juga berfluktuasi; selama periode 2004-2007, rata-rata return saham perusahaan berada pada kisaran nilai yang cukup lebar antara 15%-93%. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value). Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi BLTA telah memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Makin tinggi nilai MVA makin baik.
Dalam kurun waktu 2003-2007, market risk perusahaan berada pada kisaran 0,47-0,78, kemudian meningkat menjadi 1,05 pada 2008. Tingkat volatilitas saham perusahaan juga berfluktuasi selama 2003-2007 yang berada pada kisaran 30%-70%, kemudian meningkat menjadi lebih dari 90% (2008). Market risk (yang dinotasikan dengan koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sitematis (systematic risk). Market risk yang bernilai mendekati 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi hampir sama dibandingkan fluktuasi pasar. Ketika pasar (IHSG) bergerak sebesar 1, maka BLTA bergerak sebesar 1,05. Gambar di atas sekaligus menggambarkan hubungan risk-return pasar; menghubungkan risiko pasar dan return pasar di atas nilai bukunya.
Persepsi Pasar 2008
Market perception map merupakan diagnostic tools yang dikembangkan CAPITAL PRICE untuk mengkuantifikasi persepsi atau ekspektasi pasar dalam rangka penciptaan nilai (value) perusahaan. Metrik ini melakukan benchmarking kinerja perusahaan dengan pasar tertentu melalui tiga dimensi: kinerja keseluruhan, profitabilitas, dan pertumbuhan.
Sumber: CAPITAL PRICE
Pada tahun 2006, ekspektasi pasar terhadap profitabilitas perusahaan jangka pendek (CP) berada di bawah rata-rata perusahaan lainnya, kemudian antara 2007-2008 berada di atas rata-rata, sedangkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan (FGO) berada di atas rata-rata perusahaan lainnya pada 2006.
Selasa, 12 Mei 2009
PT. Astra Agro Lestari (AALI): Terpukul Harga CPO Dunia
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE
Profil emiten
Profil sektor

Sumber: CAPITAL PRICE
Pendapatan dan Laba

Sumber: CAPITAL PRICE
Total Asset & Equity

Sumber: CAPITAL PRICE
ROE, ROA dan TAT

Sumber: CAPITAL PRICE
Market Value Added dan Market Risk
Market Perception 2008

Sumber: CAPITAL PRICE
Disusun bersama ALI MURTADO (Financial Analyst CAPITAL PRICE)
Sabtu, 18 April 2009
PT. United Tractor Tbk (UNTR): Survive di Tengah Krisis
Profil emiten
Profil Pasar
Highlight 2002-2009

Sales & Profit

MVA & Market Risk

Market Perception Map

Recent Development
Business Outlook
Perpanjangan kontrak bisnis sebagai kontraktor pertambangan batubara yang dikelola PT. Pama Persada sebagai anak perusahaan milik UNTR dengan Kideco selama 10 tahun dapat meningkatkan pendapatan perusahaan sebesar 19%. Walaupun kinerja UNTR tahun 2009 diperkirakan masih dalam tekanan resesi dunia namun untuk jangka panjang kebutuhan alat berat dan kontraktor pertambangan batubara akan kembali menguat. Seiring dengan pemulihan ekonomi global akan berdampak positif bagi kinerja UNTR di masa depan.
Disusun bersama RR. EVIE MAULINA ASTUTI, MM (Financial Researcher CAPITAL PRICE)

Jumat, 17 April 2009
Market Review: Week of the Bulls?
Happy Trading dan Salam Investasi.....
Minggu, 12 April 2009
Sayonara Mr. Bear?
Secara substansial, apakah sudah saatnya kita berkata: Sayonara Mr. Bear?
Trading the Indicators: Be Your Own Analyst: Understanding Volume
Newton’s Law
Use It to Confirm
More Rules of Thumb
Shannon highlights a couple of his favorite reflections on volume:
1.Big volume without further upside equals distribution;
2.Big volume without further downside equals accumulation;
3.Volume tends to peak at turning points;
4.Volume often precedes price movement;
Volume is a relative study.
Divergence
Blow-Off and Climax
Confirm Pattern Breakouts
Drill a Little Deeper
On Balance Volume
Equivolume Charts
Add Open Interest to the Mix
Traditional Open Interest and Volume Guidelines:
- If prices are rising and volume and open interest are increasing, it represents a strong market;
- If prices are rising while volume and open interest are falling, it reveals a weakening market;
- If prices are falling while volume and open interest are increasing, it represents a weak market;
- If prices are falling while volume and open interest are falling, it represents a strong market.
Don’t Make This Mistake
Timing Is Everything
Closing Thoughts
Here are a few more tidbits on incorporating volume into your trading and analysis.
http://www.sfomag.com/home
Increase Your Odds with Multiple Time Frame Analysis
A Market Can “Correct” in Two Ways
Pick Your Trend
Drilling Down
Look Left
Finding Support and Resistance
Multiple Time frame Analysis Can Help


















