Selasa, 17 November 2009

EBSCOhost: Publications: A G Barr PLC SWOT Analysis

EBSCOhost: Publications: A G Barr PLC SWOT Analysis

Kamis, 29 Oktober 2009

PEREKONOMIAN DAN PASAR FINANSIAL INDONESIA 2009

Evaluasi paro pertama, prospek paro kedua dan jangka panjang

Prof. Roy Sembel, Ph.D

(Dekan UPH Business School, Chief Research Officer CAPITAL PRICE)

dan Tim CAPITAL PRICE: DR. Perdana Wahyu Santosa, Deddy Ertanto, Rahmadita Gayuh D, RR Evie)


Tanpa terasa, enam bulan telah lewat di tahun 2009. Krisis ekonomi global telah menjadi bagian dari percakapan banyak orang, mulai dari rakyat jelata, isu kampanye caleg dari banyak parpol, sampai pada perdebatan calon presiden/wakil presiden. Kejutan pada sisi negatif dan positif menandai perekonomian dan pasar finansial pada paro pertama 2009.

Efek Pendulum

Bandul atau pendulum berayun dari posisi paling kiri ke posisi paling kanan, dan kembali lagi ke posisi paling kiri, dan seterusnya. Fenomena alam tersebut tampaknya sedang terjadi di pasar finansial dan perekonomian Indonesia. Setelah mengalami pertumbuhan yang relatif bagus selama tahun 2006, 2007, dan paro pertama 2008, ekonomi Indonesia mulai terkena dampak krisis ekonomi dunia pada paro kedua 2008, khususnya pada kwartal terakhir 2008.

Akibat keluarnya uang panas (hot money) secara besar-besaran pada kwartal keempat 2008, pasar finansial Indonesia pun anjlok. Setelah naik 55,3% pada tahun 2006, dan naik lagi 52,1% pada tahun 2007, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun 50,7% selama tahun 2008. Pada paro pertama 2009 (sampai dengan akhir bulan Juni 2009), pendulum kembali mengayun ke teritori positif, dengan kenaikan IHSG sebesar 50,1%.

Setelah stabil di level Rp 9000 – Rp 9500 selama 2 tahun sejak pertengahan 2006 sampai pertengahan 2008, kurs dollar AS naik ke level Rp 12 ribu pada akhir 2008. Pada kwartal kedua 2009, rupiah kembali menguat terhadap dollar AS, bahkan sempat turun ke bawah level Rp 10.000/US$, sebelum ditutup di level Rp 10.200 /US$ pada akhir Juni 2009.

Efek bandul atau pendulum juga terjadi pada indikator ekonomi makro. Inflasi, yang pada tahun 2008 menembus angka digit ganda di atas 11%, pada paro pertama menjadi sangat rendah, yaitu hanya 0,21%. Dengan indikator inflasi yang rendah, suku bunga acuan BI pun telah diturunkan dari level 9,25% pada akhir Desember 2008 menjadi 7% pada akhir Juni 2009.

Meski indikator yang terkait dengan sektor finansial telah berayun ke sisi pemulihan, beberapa indikator di sektor riil masih belum mengikuti. Sebagai contoh, menurut data BPS, selama 5 bulan pertama tahun 2009, ekspor Indonesia turun hampir 30% dibanding periode sama 2008. PHK dan angka pengangguran masih mengkhawatirkan.

Pembahasan efek bandul belumlah lengkap tanpa mengutip pergerkan harga minyak dunia. Harga minyak dunia yang pada tahun 2008 sempat mencapai rekor tertinggi US$147/barel, berbalik turun dan sempat berada pada level di bawah US$ 40 / barel. Ekspektasi pemulihan ekonomi membuat harga minyak dunia kembali naik ke level US$ 70 / barel pada pertengahan tahun 2009.

Perkembangan ekonomi dunia juga masih dibayang-bayangi oleh dampak krisis keuangan (subprime mortagage) yang berawal dari Amerika Serikat (AS) . Krisis yang melanda AS ini tidak hanya berimbas pada AS sendiri, namun dampaknya telah menjalar ke berbagai negara di dunia. Ketidakpastian yang melanda dunia menyebabkan IMF dan Bank Dunia telah berkali kali merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi dunia. Pada tahun 2009, diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS, negara-negara Uni Eropa, Jepang, dan Inggris menjadi negatif.

Di regional Asia Tenggara pun, negara-negara yang selama ini dianggap tangguh seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, telah menderita pertumbuhan ekonomi negatif pada kwartal pertama 2009. Bahkan Singapura yang selama ini dianggap motor penggerak Asia Tenggara justru mengalami pertumbuhan paling parah, yaitu sekitar minus 10%. Rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup tinggi pada ketiga negara tersebut justru menjadi bumerang dalam situasi krisis global saat ini.

Prospek 2009

Untuk tahun 2009, prediksi pertumbuhan ekonomi yang masih relatif bagus ada pada negara dengan pasar domestik cukup besar, seperti China (+7%), India (+5,5%), dan Indonesia (+4%). Untuk Indonesia, selain faktor pasar domestik yang cukup besar dan relatif kuat, belanja pemerintah menjadi penopang perekonomian domestik. Suntikan dana ke dalam sistem perekonomian terkait dengan penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilihan presiden tampaknya menjadi salah satu buffer yang meredam dampak negatif imbas krisis ekonomi dunia.

Dibanding dengan paro pertama 2009, paro kedua 2009 diperkirakan akan ditandai dengan tekanan inflasi lebih tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia ke level di atas US$ 70 / barel. Kendati begitu, inflasi setahun penuh untuk tahun 2009 diperkirakan akan bisa dipertahankan di bawah level 5% karena paro pertama 2009, inflasi telah mencapai rekor terendah hanya 0,21%.

Sejalan dengan kecenderungan turunnya inflasi, BI rate diperkirakan juga akan mengalami penurunan. BI rate diperkirakan akan turun sepanjang tahun 2009 hingga menjadi sekitar 6,5 persen. Penurunan BI rate ini penting terutama untuk mendorong pertumbuhan di sektor rill agar pertumbuhannya tidak makin melambat. Sementara itu untuk kurs valas, pada tahun 2009 kurs rupiah terhadap US dollar diperkirakan akan menguat dibanding kwartal ketiga 2009, dan stabil di level sekitar Rp 10.000/US$.

IHSG 2009: How High Can It Go

Terkait dengan efek pendulum, berdasarkan data historis selama 30 tahun terakhir, kenaikan ekstrim (di atas 50%) untuk IHSG pernah terjadi di tahun 1993 (+114,6%), 1999 (+70,1%), 2003 (+65,8%), 2006 (+55,3%), dan 2007 (+52,8)%. Menggunakan angka median dari angka-angka ekstrim tersebut (yaitu +65,8%), maka IHSG masih menyimpan potensi untuk naik menjadi sekitar 2250. Dengan suku bunga mencapai level rekor terendah, bila suku bunga bisa dipertahankan di level rendah, bukan tidak mungkin fenomena efek pendulum yang lebih ekstrim dari angka median tersebut bisa terealisasi.

Tambahan pula, berdasarkan pengalaman beberapa pemilu terakhir, bila pemilu berjalan relatif aman, maka IHSG cenderung menguat. Kita berharap bahwa pemilihan presiden di bulan Juli 2009 ini akan berjalan lancar. Dengan demikian, IHSG akan mendapat momentum lebih kuat untuk naik dan perekonomian akan lebih cepat pulih.

Sementara itu, berdasarkan data jangka panjang 1978-2009, rata-rata return per tahun IHSG adalah 19,35%. Angka ini sangat fantastis karena belum memperhitungkan pembayaran dividen.

Implikasi Bagi Investor

Berdasarkan uraian di atas, prospek investasi di pasar finansial khususnya pasar saham masih menjanjikan. Berdasarkan data historis, investasi jangka panjang dalam saham akan memberi keuntungan yang bagus, sekitar 20% per tahun. Dalam jangka pendek, potensi pemulihan ekonomi dengan terkendalinya inflasi dan tren suku bunga yang menurun, akan memberikan ruang gerak positif bagi instrumen obligasi dan saham serta reksadana yang berbasis obligasi atau saham. Namun, di tengah pasar yang membaik, tetap ada emiten yang berfundamental buruk.

Jadi, di tengah prospek yang bagus tersebut, tentu investor harus tetap waspada untuk memperhatikan informasi fundamental jangka panjang dalam berinvestasi. Selain itu, efek pendulum bisa terjadi dua arah: dari negatif ke positif dan dari poistif ke negatif. Kendati begitu, dalam jangka panjang bila investor berinvestasi secara konsisten pada perusahaan dengan fundamental bagus, maka potensi nilai tambah jangka panjang akan tetap bagus. Sekali lagi, kuncinya adalah berinvestasi berdasarkan analisis fundamental yang solid. Mulai minggu depan, di rubrik ini akan disarikan analisis kinerja jangka panjang dari emiten-emiten terpilih di Bursa Efek Indonesia. Selamat berinvestasi!

Rabu, 28 Oktober 2009

MASALAH EVA dan ROIC PT CIPUTRA DEVELOPMENT, Tbk

Perdana Wahyu Santosa
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE

PT Ciputra Development Tbk adalah perusahaan di bidang properti dan real estate. Listing di IDX pada tanggal 28 Maret 1994, dengan kode CTRA berada pada properti, real estate, dan konstruksi bangunan, dengan sub sektor properti dan real estate. Komposaisi kepemilikan sahamnya dimiliki PT Sang Pelopor (35,22%), Credit Suisse Singapore (7,99%), dan Rollic Holding Limited (5,25%), sisanya dimiliki publik.

Sampai saat ini PT Ciputra Development telah mengembangkan dan mengelola 21 properti perumahan dan komersial yang tersebar di 14 kota besar di seluruh Indonesia. Properti komersial yang telah dikembangkan meliputi pusat perbelanjaan, hotel, apartemen servis dan lapangan golf. Ciputra Development memiliki 5 anak perusahaan, dengan 2 diantaranya telah go public, yaitu PT Ciputra Surya Tbk dan PT Ciputra Property Tbk. Yang lainnya adalah PT Ciputra Residence, PT Ciputra Indah, dan PT Ciputra Graha Mitra.

Salah satu indikator analisis keuangan penting bagi perusahaan adalah ROIC dan EVA yang terkait dengan biaya modal (cost of capital) yang terdiri dari bobot biaya ekuitas dan utang. ROIC merupakan ukuran efektivitas perusahaan dalam menggunakan total uang (modal) dalam kegiatan operasionalnya, sebagai tingkat pengembalian perusahaan dari kegiatan operasionalnya terhadap modal yang telah diinvestasikan, sedangkan EVA merupakan economic profit yang didasari bahwa suatu bisnis harus mampu memberikan pengembalian yang telah menutupi biaya operasional dan biaya modal. Semakin tinggi EVA/IC maka semakin baik memampuan perusahaan dalam memaksimalkan penghasilan dari potensi modal yang dimilikinya.

Analisis biaya modal (Cost of capitalCOC) perusahaan menunjukkan tren menurun selama 2002-2004, dari 14,24% (2002) menjadi 7,63% ( 2004), kemudian mengalami peningkatan hingga mencapai 23,33% pada 2008. Return on invested capital (ROIC) perusahaan berfluktuasi hingga mencapai 5,80% pada 2007. Sejak tahun 2005 EVA perusahaan juga terus mengalami penurunan yang menunjukkan nilai tambah ekonomi yang diciptakan perusahaan terus berkurang. Hal ini menggambarkan kemampuan manajemen memaksimalkan penghasilan dari modalnya semakin merosot.



Sumber: CAPITAL PRICE (2009)

Rendahnya nilai EVA dapat disebabkan oleh beberapa faktor terutama beban biaya produksi dan tergerusnya Net Profit Margin sekalipun sales meningkat. Masalah Efisiensi dan beban biaya modal dinilai memberikan pengaruh terhadap masalah EVA ini sehingga harus diberi perhatian khusus.

Maka beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan adalah:

• Untuk mengatasi masalah material, perseroan melakukan value engineering; dengan membeli material awal. Melalui anak perusahaannya, perusahaan melakukan pembelian material sebanyak 5.000 ton, dari total kebutuhan 7.500 ton dengan biaya sekitar Rp60 miliar. Sementara untuk kredit KPR, perusahaan mengalihkan kerjasama dari Bank Mandiri ke Bank BCA yang lebih kompetitif.

• Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan bahwa perusahaan tidak membagikan dividen untuk tujuan ekspansi agar operasi bisnis memenuhi skala ekonomi yang lebih baik.

• Menggarap proyek luar Jawa seperti Proyek residensial di Pangkal Pinang merupakan bagian dari rencana perusahaan untuk membangun perumahan mewah setiap propinsi di Indonesia. Di luar Jawa, perusahaan telah memiliki enam proyek di Lampung, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Palembang, dan Makasar.

• Grup perusahaan berencana mencatatkan perusahaannya (berkedudukan di Singapura) pada bursa efek Singapura dan Hongkong untuk mendapatkan akses modal ekuitas dan obligasi yang lebih besar.

Visit:
http://www.capitalprice.com
http://wisdomarket.blogspot.com

Selasa, 13 Oktober 2009

MENCIPTAKAN KESEMPATAN DI TENGAH KRISIS

Prof. Roy Sembel, Ph.D

Dekan Business School, Direktur Program Pascasarjana UPH (www.uph.edu)

Chief Research Officer, CAPITAL PRICE (www.capitalprice. com)

Ekonomi dunia telah menjelma menjadi ekonomi baru. Fenomena ekonomi baru (The New Economy), telah dimulai sejak revolusi informasi melanda dunia pada kuartal keempat dari abad ke 20. Berbeda dengan revolusi industri yang mengubah wajah dunia dengan menurunkan biaya transformasi dari bahan baku menjadi barang jadi, revolusi informasi ditandai dengan menurunnya biaya interaksi.

Biaya interaksi merupakan uang dan waktu (biaya eksplisit dan biaya implisit) yang digunakan saat orang atau perusahaan saling bertukar barang, jasa, atau gagasan. Pertukaran tersebut bisa terjadi di dalam perusahaan, antar perusahaan, dan antara perusahaan dan konsumen. Interaksi mencakup pencarian (searching), koordinasi, dan pemantauan. Konsep biaya interaksi pada awalnya dikembangkan oleh pemenang Nobel Ekonomi Prof. Ronald Coase, dan dipoles lebih lanjut oleh Prof. Oliver Williamson (disebut sebagai biaya transaksi), serta disempurnakan oleh beberapa konsultan senior McKinsey & Co (http://www. mckinsey. com).

Dalam konteks ekonomi baru, ada empat mega tren yang relevan: digitisasi, mobilitas modal, liberalisasi (disingkat DML), dan akhir-akhir ini ditambah lagi dengan standardisasi (menjadi DMLS). Keempat faktor inilah yang menyulut Revolusi Informasi yang menyebabkan aset fisik (tangible assets) tidak lagi menjadi tumpuan utama bagi masa depan perusahaan. Mekanismenya adalah melalui penurunan biaya interaksi, percepatan globalisasi, dan peningkatan insentif untuk menjadi inovatif dan efisien.

Di satu sisi, tren ekonomi baru membuka peluang baru yang sangat besar. Sebagai contoh, saat ini sudah lebih dari 1 milyar penduduk dunia terhubung dengan teknologi informasi dan telekomunikasi. Di Indonesia saja, statistik terakhir menunjukkan bahwa total pelanggan ponsel di Indonesia telah menembus angka 100 juta. Pasar maya yang tercipta sangat besar.

Pertumbuhan pesat di bidang hardware, software, content (misalnya,electronic paper, blackberry, google, facebook, mobile content provider /broadcaster, dll) semakin mengukuhkan peran dan penting potensi besar pasar nirwujud ini.

Namun di sisi lain, peningkatan globalisasi akibat tren DMLS ini, juga meningkatkan risiko secara signifikan. Hot money yang bersliweran di pasar finansial dunia bergerak demikian mudah dan cepatnya. Pada caturwulan terakhir tahun 2008 saja, telah lebih dari Rp 100 triliun uang panas hengkang dari pasar finansial Indonesia. Akibatnya, nilai rupiah terhadap dolar AS anjlok sekitar 30% dan cadangan devisa Indonesia turun dari titik tertinggi US$ 60 milyar menjadi US$ 50 milyar.

Memaknai tren krisis

Peneliti Bank Dunia, Gerard Caprio dan Daniela Klingebiel, mengungkapkan bahwa fenomena krisis di dunia ini terus meningkat jumlahnya dari dekade ke dekade. Pada dekade 80-an, mereka mengidentifikasi telah terjadi 45 krisis serius di tingkat dunia. Pada dekade 90-an, jumlahnya meningkat menjadi 65. Dekade 2000-an memang belum selesai, namun kita sudah mengalami banyak sekali krisis dengan intensitas yang jauh lebih dalam.

Badai krisis ekonomi dan finansial yang melanda dunia saat ini memang luar biasa. Lebih dari Rp 160 ribu triliun menguap dari bursa saham seluruh dunia di tahun 2008. Angka itu lebih tinggi dibandingkan total nilai barang dan jasa final yang dihasilkan di Amerika Serikat sepanjang tahun 2008 (yaitu sekitar US$ 13 triliun, atau Rp 150 ribu triliun). Indeks harga saham acuan di AS, yaitu DJIA, sempat anjlok ke level terendah sejak 1997. Sementara itu, indeks saham Jepang (Nikkei) bahkan sempat anjlok ke level terendah sejak 25 tahun terakhir.

Dalam tataran domestik Indonesia, situasinya juga mengkhawatirkan. Bulan lalu (Februari 2009), data BPS menunjukkan bahwa ekspor Indonesia sudah anjlok 36% (year-on-year). Tahun lalu, berdasarkan riset dari CAPITAL PRICE (http://www. capitalprice. com) lebih dari 60% (senilai lebih dari Rp 1150 triliun) kemakmuran investor saham di Bursa Efek Indonesia lenyap selama 10 bulan dari Januari 2008 sampai dengan akhir Oktober 2008. Dari sisi angka rupiahnya, kerugian Rp 1150 triliun itu lebih besar dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2009, yaitu sebesar sekitar Rp 1000 triliun.

Berdasarkan statistik (frekuensi dan kedalaman) krisis di atas, tampaknya kita memang harus bersiap menghadapi krisis yang semakin sering dan mungkin sekali semakin dahsyat. Krisis bisa dimaknai sebagai gelas setengah kosong atau setengah penuh. Krisis berdampak buruk menurunkan kemakmuran baik bagi perusahaan maupun bagi negara. Kendati begitu, kita dapat belajar banyak dari krisis. Mungkin sekali, saat situasi normal dan baik, kita tidak menyadari kelemahan kita. Kita menjadi terlena dan berpikir bahwa semua hal yang kita lakukan sudah benar. Kenyataannya, ada banyak kelemahan kita yang tertutup oleh faktor eksternal yang sedang positif.

Krisis membuka mata kita bahwa ada banyak hal yang belum kita lakukan secara benar atau hal yang benar di masa lalu belum tentu tetap benar di era yang telah berubah. Kita perlu menguji kembali asumsi yang pernah kita gunakan sewaktu merancang strategi dan rencana aksi di masa lalu. Atau, mungkin juga selama ini bisnis kita berkembang secara kebetulan atau by accident. Intinya, di tengah krisis inilah saatnya bagi kita untukback to basics untuk membangun bisnis dengan dasar dan kerangka yang solid.

Back to basics

Langkah awal untuk membangun bisnis yang kokoh adalah melakukan evaluasi terhadap situasi saat ini dalam konteks perkembangan historis dan skenario masa depan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui situasi internal (kekuatan, kelemahan), dan memaknai situasi eksternal (kesempatan, dan tantangan), atau terkenal dengan analsis SWOT (Strenghs, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Langkah kedua adalah penetapan tujuan atau masa depan yang diinginkan, yaitu visi, misi, dan target jangka pendek, menengah dan panjang. Visi dan misi perlu dibuat selayaknya impian yang menggugah semangat, namun perlu diterjemahkan ke dalam target jangka pendek, menengah dan panjang yang membumi (SMARTER = Specific, Measurable, Actionable, Realistic, Time Bound, Encouraging, dan Rewarding).

Berdasarkan langkah pertama dan kedua itu kemudian dirancang langkah ketiga, yaitu penetapan grand strategy yang menjadi koridor bagi rencana tindak selanjutnya. Agar strategi bisa diimplementasikan dengan baik, perusahaan perlu menjalankan langkah keempat, yaitu membangun kapasitas yang diperlukan, yaitu infrastruktur keras (hardware), insfrastruktur lunak (software), peningkatan SDM (brainware), komunikasi dengan stakeholder (marketware), leadershipyang solid dan bericiri good governance, serta budaya perusahaan yang berorientasi penciptaan nilai tambah secara berdampak besar dan berkelanjutan (sustainable and significant value creation).

The proof of the pudding is in the eating. Ujian yang sesungguhnya adalah saat implementasi. Kerja keras, kerja cerdas, dan kerjasama tim (hard work, smart work, dan team work) diperlukan untuk meningkatkan peluang tercapainya masa depan yang diinginkan. Itulah langkah kelima dalam sistem penciptaan nilai tambah.

Selanjutnya, untuk melengkapi sistem penciptaan nilai tambah tersebut, perlu dilakukan langkah keenam, yaitu pengukuran dan pemantauan terhadap hasil implementasi. Are we on the right track? Bila sudah berada pada rel yang benar seperti yang telah direncanakan, apakah kita sudah mencapai target antara? Bila tidak, perlu dicari akar permasalahan yang menyebabkan ketidak sesuaian antara rencana dan kenyataan.

Dengan menjalankan keenam langkah value creating system tersebut, perusahaaan akan lebih siap dalam menghadapi dan mengantisipasi krisis sehingga penciptaan nilai tambah dapat terjadi dengan dampak yang besar dan secara berkelanjutan.

Minggu, 27 September 2009

Memprediksi Harga Crude Oil 2009

Perdana Wahyu Santosa
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE
Wakil Dekan FE Universitas Yarsi

Harga Crude Oil dunia berkorelasi signifikan dengan pergerakan indeks pasar global, terutama terhadap Dow Jones dan nilai tukar US$. Selama periode 2009, harga crude oil yang sempat terpuruk di bawa US$ 40 perbarrel mengalami peningkatan tajam hingga menembus level US$ 70 perbarrel. Meroketnya harga crude oil tersebut dipengaruhi berbagai faktor fundamental ekonomi dunia terutama indikator pemulihan ekonomi AS yang mengalami krisis berat.

Survey yang dilakukan University of Michigan/Reuters menunjukkan bahwa US consumer juga mendukung kenaikan harga minyak dunia. Ini merupakan sentiment yang rasional, namun analisis fundamental ekonomi global belum menunjukkan pemulihan permintaan (demand) yang berarti. Kondisi ini membuat harga crude oil berfluktuasi pada kisaran US$ 65-75 perbarrel. Saat ini, crude oil berada pada level US$ 66,02 perbarrel.

Memanasnya kondisi geopolitik antara AS-Iran terkait dengan program nuklir Iran juga berpotensi meningkatkan harga crude oil dunia. Krisis nuklir ini bepotensi memutuskan supply chain dari Hormuz Strait yang mengalirkan sekitar 40% kebutuhan minyak dunia. Bahkan jika masalah geopolitik ini terus memanas tentunya akan memngganggu pemulihan ekonomi global keseluruhan. Namun para analis berpendapat bahwa OPEC dan produsen lainnya akan segera meningkatkan kapsitas produksinya untuk menjaga stabilitas harga crude oil. Di prediksi harga crude oil akibat masalah geopolitik program nuklir Iran hanya mendongkrak harga hingga level US$ 80 perbarrel.

Fluktuasi harga crude oil pada kisaran US$ 65-75 perbarrel merupakan salah satu peluang untuk melakukan trading jangka pendek yang menjanjikan. Di samping itu, indicator ekonomi makro gobal dan AS seperti jobs claim, sales housing, manufacturing dll juga merupakan variabel-variabel penggerak indeks yang saling terkait.

Salam Investasi dan happy trading…..

Selasa, 30 Juni 2009

PT Berlian Laju Tanker Tbk

Oleh : PERDANA WAHYU SANTOSA

Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE


Artikel ini pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia hal F2 Senin 13 April 2009 dan menjadi materi Talk Show Capital Market Review di PAS FM 92,4


Profil emiten


PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), yang mulai beroperasi pada tahun 1981, bergerak dalam bidang jasa pelayaran/angkutan laut dengan konsentrasi pada angkutan muatan bahan cair baik dalam kawasan Indonesia maupun Asia, Eropa dan Amerika. Per 31 Desember 2008, pendapatan usaha BLTA berasal dari kapal yang dimiliki (72,5%), kapal yang disewa (27,32%), jasa perantara perkapalan (0,09%), dan jasa penyimpanan (0,08%).


Profil sektor transportasi


Jasa pelayaran/angkutan laut memegang peran penting yaitu sebesar 99% dari berat total muatan ekspor impor dari perpindahan barang dalam negeri dilakukan melalui laut (data Dewan Kelautan Indonesia). Sektor transportasi menyumbang terhadap pertumbuhan sekitar Rp19 triliun per annum atau sebesar 3,69% dari Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV 2008.


Sektor ini memperoleh insentif dari pemerintah berupa munculnya kebijakan pemerintah (instruksi presiden No. 5/2005 dan surat keputusan bersama (SKB) No. 20/MDAG/PER/4/2006) yang mengatur transportasi laut supaya masuknya barang-barang impor ke dalam negeri harus diangkut dengan kapal Indonesia, sekaligus mengurangi dominasi kapal asing.


Highlights 2002-2009


Sampai dengan perdagangan 7 April 2009, saham BLTA ditutup di posisi Rp600 per lembar saham. Pada Desember 2007-Januari 2008, saham BLTA sempat berada pada level tertingginya yaitu Rp2.675 per lembar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp27 miliar.


Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah

Sepanjang 2002-2008, BLTA mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 40,38%. Profitabilitas BLTA juga meningkat dengan CAGR sebesar 45,86% untuk operating profit dan 56,39% untuk net income.


Growth 2002-2008


CAGR


CAGR

Sales

40.38%

Total Equity

34.46%

Operating Profit

45.86%

Total Assets

45.89%

Net Income

56.39%



CAGR: Compound Annual Growth Rate

Sales BLTA terus meningkat hingga mencapai level tertingginya pada 2008 yaitu sebesar Rp7 triliun seiring ekspansi armada BLTA dan dukungan pemerintah dalam mengangkut barang-barang impor oleh kapal domestik. Walaupun sempat menurun sejak 2006, marjin laba bersih (net profit margin (NPM)), mewakili tingkat efektivitas perusahaan dalam mengelola biaya-biaya untuk mengkonversi sales menjadi net income, BLTA cenderung stabil sejak 2007 hingga menjadi sebesar 22,24% pada 2008.



BLTA membukukan CAGR total assets dan total equity masing-masing sebesar 45,89% dan 34,46%. Selama 2002-2008, debt-to-assets ratio (DAR), yang mewakili penggunaan hutang dalam proporsi aset BLTA, berfluktuasi pada kisaran 61,48%-83,96%, hingga mencapai sebesar 76,39% pada 2008.



Profitabilitas

Walaupun sempat menurun dari level tertingginya pada 2006 (38,49%), return on equity (ROE) perusahaan mulai meningkat dari 22,89% (2007) menjadi sebesar 26.42% pada 2008. Demikian pula, return on assets (ROA) BLTA menjadi sebesar 6,24% pada 2008, meningkat dari tahun sebelumnya (3,67). ROE menggambarkan ukuran profitabilitas perusahaan atas uang yang diinvestasikan oleh pemegang sahamnya. Adapun ROA menggambarkan ukuran profitabilitas relatif terhadap keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan, juga menggambarkan tingkat efisiensi manajemen perusahaan dalam menggunakan aset perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.


Total assets turnover (TAT) BLTA sempat mengalami penurunan antara tahun 2006-2007, namun kembali meningkat sejak 2007 dari 0,18 menjadi 1,28 (2008). Rasio TAT mewakili ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset yang dimiliki untuk menghasilkan sales. Semakin tinggi rasio TAT semakin efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya.


Market Multiple


Price-earnings ratio (PER) menjelaskan ekspektasi pasar terhadap perusahaan; semakin tinggi PER, semakin tinggi pasar bersedia membayar untuk tiap rupiah pendapatan tahunan yang dihasilkan perusahaan. CAPITAL PRICE mengidentifikasi adanya abnormalitas berupa over expectation pada saham BLTA dimana PER melonjak dengan level tertinggi pada 2006. Namun PER BLTA kembali stabil berada pada level 6,57 (2007) dan 10,90 (2008). Price to book value (PBV) menjelaskan besarnya premium (tambahan keuntungan) yang bersedia dibayarkan oleh pasar di atas nilai buku ekuitas perusahaan. Antara tahun 2003-2006, PBV BLTA berfluktuasi pada kisaran 1,01-3,01, hingga menjadi sebesar 2,49 pada 2008.


Sumber: CAPITAL PRICE

Market Value Added dan Risk


Kinerja saham perusahaan berfluktuasi dimana sejak periode 2006, shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) perusahaan berada di atas 149%, dengan nilai tertinggi sebesar 200,97% (2006). Rata-rata return (annualized) saham perusahaan juga berfluktuasi; selama periode 2004-2007, rata-rata return saham perusahaan berada pada kisaran nilai yang cukup lebar antara 15%-93%. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value). Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi BLTA telah memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Makin tinggi nilai MVA makin baik.


Dalam kurun waktu 2003-2007, market risk perusahaan berada pada kisaran 0,47-0,78, kemudian meningkat menjadi 1,05 pada 2008. Tingkat volatilitas saham perusahaan juga berfluktuasi selama 2003-2007 yang berada pada kisaran 30%-70%, kemudian meningkat menjadi lebih dari 90% (2008). Market risk (yang dinotasikan dengan koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sitematis (systematic risk). Market risk yang bernilai mendekati 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi hampir sama dibandingkan fluktuasi pasar. Ketika pasar (IHSG) bergerak sebesar 1, maka BLTA bergerak sebesar 1,05. Gambar di atas sekaligus menggambarkan hubungan risk-return pasar; menghubungkan risiko pasar dan return pasar di atas nilai bukunya.


Persepsi Pasar 2008


Market perception map merupakan diagnostic tools yang dikembangkan CAPITAL PRICE untuk mengkuantifikasi persepsi atau ekspektasi pasar dalam rangka penciptaan nilai (value) perusahaan. Metrik ini melakukan benchmarking kinerja perusahaan dengan pasar tertentu melalui tiga dimensi: kinerja keseluruhan, profitabilitas, dan pertumbuhan.


Sumber: CAPITAL PRICE

Pada tahun 2006, ekspektasi pasar terhadap profitabilitas perusahaan jangka pendek (CP) berada di bawah rata-rata perusahaan lainnya, kemudian antara 2007-2008 berada di atas rata-rata, sedangkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan (FGO) berada di atas rata-rata perusahaan lainnya pada 2006.


Ditulis bersama RAHMADITA GAYUH DIRGANTORO

Selasa, 12 Mei 2009

PT. Astra Agro Lestari (AALI): Terpukul Harga CPO Dunia

Oleh : PERDANA WAHYU SANTOSA
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE

Artikel ini pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia hal F2 dan menjadi materi Talk Show Capital Market Review di PAS FM 92,4 pada Senin 4 Mei 2009.

Profil emiten

PT Astra Agro Lestari Tbk. adalah perusahaan dibidang pertanian, didirikan pada tahun 1981. Bisnis utamanya adalah Crude Palm Oil (CPO). CPO didapat dengan mengolah kelapa sawit. Pada desember 1997 perusahaan melakukan listing di BEJ dan BES dengan kode AALI berada pada sektor pertanian dengan sub sektor perkebunan. Sebagian besar sahamnya (lebih dari 79%) dimiliki oleh PT Astra Internasional, sisanya dimiliki oleh publik. Pada tahun 2004 perusahaan mendivestasi semua bisnisnya yang selain CPO. Pada tahun 2008 luas lahan kelapa sawit perusahaan mencapai 500 ribu hektar, dengan kapasitas produksi CPO mencapai 990 ribu ton/tahun.

Profil sektor

Sampai 2007, harga CPO dunia terus mengalami kenaikan, seiring dengan meningkatnya permintaan dari China dan India yang mencoba mengeksploitasi sumber daya alam nabati, karena tekanan kenaikan harga minyak dunia yang semakin tinggi. Namun akibat pengaruh krisis finansial di tahun 2008 harga-harga berbagai komoditas dunia mengalami penurunan, termasuk harga CPO ini. Pada bulan Agustus 2008 harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus merosot sejak dua bulan terakhir. Pada oktober 2008, harga CPO di bursa Rotterdam hanya berada di kisaran US$ 733 per ton. Padahal, harga rata-rata bulan sebelumnya masih US$ 1.175 per ton.

Highlights 2002-2009

Sampai dengan perdagangan 27 April 2009, saham AALI ditutup di posisi Rp35,300 per lembar saham. Saham AALI sempat berada pada level tertingginya pada tanggal 26 Ferbuari 2008 yaitu Rp35,300 per lembar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp106 miliar.


Sumber: CAPITAL PRICE


Sepanjang 2002-2007, AALI mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 24,02%. Profitabilitas AALI juga meningkat dengan CAGR sebesar 37,66% untuk operating profit dan 53,78% untuk net income.

Pendapatan dan Laba

Sales AALI terus meningkat hingga mencapai level tertingginya pada 2007 yaitu sebesar Rp5,96 triliun seiring naiknya harga CPO dunia. Demikian juga dengan marjin laba bersih atau net profit margin (NPM)), yang mewakili tingkat efektivitas perusahaan dalam mengelola biaya-biaya untuk mengkonversi sales menjadi net income, meningkat pada 2007 hingga menjadi sebesar 33,11%.


Sumber: CAPITAL PRICE

Sepanjang tahun 2008, PT Astra Agro Lestari (AALI) membukukan kenaikan laba bersih hingga 33% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,63 triliun dari sebelumnya Rp 1,97 triliun sementara untuk penjualan bersih tercatat naik 37% dari sebelumnya Rp 5,96 triliun menjadi Rp 8,12 triliun, dan untuk laba usaha tercatat naik 16% menjadi Rp 3,38 triliun sedangkan sebelumnya sebesar Rp 2,9 triliun.

Sedangkan pada triwulan satu 2009, AALI mencatat penurunan penjualan bersih sebesar 38% atau turun menjadi Rp 1,41 triliun, sementara pada tahun 2008 sebesar Rp 2,27 triliun. Sedangkan untuk laba usaha pun juga mengalami penurunan dari Rp 1,21 triliun menjadi Rp 278,72 miliar, atau sebesar 77%. Sedangkan laba bersih juga tercatat turun 74%, dari Rp 827,05 miliar menjadi Rp 217,72 miliar.

Total Asset & Equity

AALI membukukan CAGR total assets dan total equity masing-masing sebesar 25,45% dan 15,44%. Selama 2002-2007, debt-to-assets ratio (DAR), yang mewakili penggunaan hutang dalam proporsi aset AALI, berfluktuasi pada kisaran 17%-50%. Pada tahun 2002, debt-to-assets ratio (DAR) hampir mencapai 50%, sebelum akhirnya menurun pada tahun-tahun berikutnya. Sejak tahun 2005, DAR perusahaan berada di bawah nilai 25%.DAR terendah di capai di tahun 2005 sebesar 17,83%


Sumber: CAPITAL PRICE

CAPITAL PRICE menganalisis ukuran penggunaan leverage perusahaan; rasio yang menggambarkan penggunaan biaya-biaya tetap (fixed costs) dalam perusahaan. Terdapat tiga rasio leverage: degree of operating leverage (DOL), degree of financial leverage (DFL), dan degree of combined leverage (DCL). DCL menggambarkan pengaruh financial leverage terhadap net income perusahaan. Financial leverage melibatkan penggunaan fixed costs untuk pendanaan kegiatan perusahaan dan biaya-biaya signifikan sebelum net income. Semakin tinggi DFL, semakin rentan net income terhadap perubahan operating profit, dengan asumsi ceteris paribus. DCL AALI berada pada level tertinggi pada tahun 2004.

ROE, ROA dan TAT

Nilai return on equity (ROE) perusahaan terus meningkat, dengan nilai tertinggi dicapai tahun 2007 (48,60%) dan 2004 (38,77%) Demikian pula, return on assets (ROA) perusahaan terus meningkat dari 8,79% pada 2002 sampai menjadi 36,87% di tahun 2007. ROE menggambarkan ukuran profitabilitas perusahaan atas uang yang diinvestasikan oleh pemegang sahamnya. Adapun ROA menggambarkan ukuran profitabilitas relatif terhadap keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan, juga menggambarkan tingkat efisiensi manajemen perusahaan dalam menggunakan aset perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.

Total assets turnover (TAT) AALI juga terus mengalami peningkatan, dari 0,78 (2002) hingga mencapai 1,11 (2007). Rasio TAT mewakili ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset yang dimiliki untuk menghasilkan sales. Semakin tinggi rasio TAT semakin efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya.


Sumber: CAPITAL PRICE

Price-earnings ratio (PER) menjelaskan ekspektasi pasar terhadap perusahaan; semakin tinggi PER, semakin tinggi pasar bersedia membayar untuk tiap rupiah pendapatan tahunan yang dihasilkan perusahaan. PER perusahaan cenderung stabil pada April 2003 – April 2006 (7 – 12), kemudian meningkat pesat di April 2007 (27,16) Price to book value (PBV) menjelaskan besarnya premium (tambahan keuntungan) yang bersedia dibayarkan oleh pasar di atas nilai buku ekuitas perusahaan. Antara tahun 2003-2006, PBV AALI juga terus meningkat dari 1,59 (April 2003) – 8,66 (April 2008).

Market Value Added dan Market Risk

Kinerja saham perusahaan terus meningkat secara signifikan, di tandai dengan meningkatnya shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) perusahaan dari 58,92% (April 2003) menjadi di atas 766% (April 2008). Rata-rata return (annualized) saham perusahaan pada periode ini juga terus meningkat, dari -12,89% (April 2003) hingga mencapai 99,78% (April 2008), walaupun sempat mengalami penurunan di tahun 2006. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value). Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi AALI telah memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Makin tinggi nilai MVA makin baik.

Setelah mengalami penurunan signifikan pada April 2004, market risk perusahaan cenderung berfluktuasi pada kisaran 0,62 – 1,28. Market risk tertinggi dialami di April 2003 sebesar 1,74. Tingkat volatilitas return perusahaan pada periode ini juga berfluktuasi di kisaran 31% - 58%. Market risk (yang dinotasikan dengan koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sitematis (systematic risk). Market risk yang bernilai mendekati 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi hampir sama dibandingkan fluktuasi pasar. Ketika pasar (IHSG) bergerak sebesar 1, maka AALI bergerak sebesar 1. Gambar di atas sekaligus menggambarkan hubungan risk-return pasar; menghubungkan risiko pasar dan return pasar di atas nilai bukunya.

Market Perception 2008

Market perception map merupakan diagnostic tools yang dikembangkan CAPITAL PRICE untuk mengkuantifikasi persepsi atau ekspektasi pasar dalam rangka penciptaan nilai (value) perusahaan. Metrik ini melakukan benchmarking kinerja perusahaan dengan pasar tertentu melalui tiga dimensi: kinerja keseluruhan, profitabilitas, dan pertumbuhan. Dan bila dilihat dari Market Perception Map, pada tahun 2008 perusahaan berada pada kuadran 1 yang menempatkan perusahaan pada level excellent value manager.


Sumber: CAPITAL PRICE


Sejak April 2004, ekspektasi pasar terhadap profitabilitas perusahaan jangka pendek (CP) dan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan (FGO) perusahaan selalu jauh berada di atas rata-rata perusahaan lainnya.

Disusun bersama ALI MURTADO (Financial Analyst CAPITAL PRICE)

Sabtu, 18 April 2009

PT. United Tractor Tbk (UNTR): Survive di Tengah Krisis

Oleh : PERDANA WAHYU SANTOSA
Chief Knowledge Officer CAPITAL PRICE

Artikel ini pernah dimuat di Bisnis Indonesia hlm. F2 dan menjadi materi talk show CAPITAL MARKET REVIEW di PAS FM 92.4 (Senin: 30 Maret 2009)

Profil emiten

PT. United Tractor Tbk adalah perusahaan distributor tunggal alat berat Komatsu yang mulai beroperasi di Indonesia pada 13 Oktober 1972. Di Bursa Efek Indonesia, PT. United Tractor Tbk termasuk dalam industri perdagangan, jasa dan investasi pada sektor perdagangan besar barang produksi dengan kode pencatatan UNTR dimana PT. Astra Internasional menjadi pemegang saham mayoritas. Selain dikenal sebagai distributor alat berat terkemuka di Indonesia, UNTR juga aktif bergerak di bidang kontraktor penambangan dengan anak perusahaan PT. Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT. Dasa Eka Jasatama (DEJ). Pendapatan UNTR berasal dari penjualan alat berat (mesin konstruksi) Komatsu, Nissan Diesel, Scania, Bomag, Valmet dan Tadano sebesar 47,2%, dari kontraktor penambangan 43,8% dan sektor pertambangan sebesar 9%.

Profil Pasar

Tingginya kinerja dari ketiga bisnis usaha UNTR yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan usaha pertambangan didorong oleh peningkatan kegiatan usaha pada sektor-sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan dan konstruksi. Kondisi tersebut membuat UNTR memperoleh pendapatan 2008 sebesar Rp 18,2 triliun atau naik 32% dengan laba usaha mencapai Rp 2,4 triliun.

Namun UNTR memperkirakan net profit di awal tahun 2009 akan turun sekitar 10% sebagai akibat krisis global yang mempengaruhi bisnis tahun ini. Penurunan laba bersih tersebut dikarenakan penurunan penjualan unit alat berat yang diperkirakan hanya sekitar 6000 unit dari target sebelumnya 10 ribu unit.

Highlight 2002-2009

Sampai dengan perdagangan 28 Maret 2009, saham UNTR ditutup di posisi Rp 5.450 per lembarnya. Pada 7 November 2007, saham UNTR berada pada nilai tertingginya Rp 11.700 per lembarnya.


Sepanjang tahun 2002-2007, UNTR mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 21,43%. Pada tahun 2006 dan 2007, perusahaan membukukan pertumbuhan sales yang tinggi (71,25% dan 113,31%). Profitabilitas perusahaan juga meningkat dengan CAGR 87,97% untuk operating profit dan 90,98% untuk net income.

Sales & Profit

Pendapatan dan profitabilitas perusahaan meningkat secara konsisten hingga akhir tahun 2007 seiring melonjaknya permintaan alat berat Komatsu yang menjadi komoditas andalan UNTR. Sejak 2002, UNTR menghasilkan net income semakin tinggi sehingga marjin laba bersih (net profit margin/NPM) yang dihasilkan UNTR cenderung semakin tinggi . Ini menunjukan UNTR semakin efisien dalam mengelola biaya operasional.


NPM mewakili tingkat efektivitas perusahaan dalam mengelola biaya-biaya untuk mengkonversi sales menjadi laba aktual. NPM UNTR pada September 2008 tercatat sebesar 9,89%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

MVA & Market Risk

Kinerja saham perusahaan terus meningkat sepanjang April 2003-April 2008, ditunjukkan dengan peningkatan shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) yang signifikan hingga mencapai 467,5% pada April 2008. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value).

Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi UNTR telah memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Semakin tinggi nilai MVA makin baik.


Market risk UNTR menurun dari 1,98 hingga mencapai 0,74 namun kembali meningkat menjadi hampir sebesar satu pada April 2008. Market risk (koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sistematis (systematic risk). Market risk yang bernilai lebih dari 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi lebih besar dibandingkan fluktuasi pasar.

Market Perception Map

Selama 2008, CAPITAL PRICE menemukan bahwa persepsi pasar terhadap profitabilitas saat ini (current performance) dan persepsi pasar terhadap prospek pertumbuhan UNTR di masa depan (future growth opportunity-FGO) berada di atas rata-rata emiten lainnya. Secara umum, UNTR berada pada Kuadran I (kanan-atas) Excellent value managers artinya pasar memiliki ekspektasi terhadap profitablitas jangka pendek dan prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan yang melebihi rata-rata perusahaan lainnya.



Recent Development

Krisis global yang masih berlanjut diyakini akan menekan harga komoditas dan berimbas pada merosotnya permintaan alat berat sekitar 30% sehingga kinerja perusahaan akan melemah dan diproyeksikan penjualan turun sekitar 40%. Namun demikian peningkatan penjualan diperoleh dari after sales yang diperkirakan naik 10%-15% dan dari sektor pertambangan batubara yang naik 10%. Tahun 2009, UNTR melalui anak perusahaannya PT. Pama Persada akan mengakuisisi tambang batubara yang mempunyai cadangan 10-20 juta ton dengan total pembiayaan senilai US$ 300 juta.

Business Outlook

Adanya tren pertumbuhan usaha di sektor pertambangan, perkebunan, konstruksi, kehutanan, material handling dan transportasi menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan komoditas. Harga yang tinggi dan rencana ekspansi para pelaku bisnis membuat UNTR yakin bahwa permintaan produk dan jasa di masa yang akan datang akan meningkat.

Perpanjangan kontrak bisnis sebagai kontraktor pertambangan batubara yang dikelola PT. Pama Persada sebagai anak perusahaan milik UNTR dengan Kideco selama 10 tahun dapat meningkatkan pendapatan perusahaan sebesar 19%. Walaupun kinerja UNTR tahun 2009 diperkirakan masih dalam tekanan resesi dunia namun untuk jangka panjang kebutuhan alat berat dan kontraktor pertambangan batubara akan kembali menguat. Seiring dengan pemulihan ekonomi global akan berdampak positif bagi kinerja UNTR di masa depan.

Disusun bersama RR. EVIE MAULINA ASTUTI, MM (Financial Researcher CAPITAL PRICE)

Jumat, 17 April 2009

Market Review: Week of the Bulls?


By Perdana Wahyu Santosa

Periode minggu ini IHSG, LQ-45 dan BI-27 menunjukan strong rally luar biasa dan berhasil menembus 2 (dua) resistensi sekaligus hingga IHSG mencapai level 1634. Ekspektasi ini jelas di luar prediksi saya dimana IHSG berada pada kisaran 1500-1550. Kenaikan abnormal ini disebabkan adanya money inflow para hedge fund yang mendominasi hampir 50% kapitalisasi pasar terutama pada 3 hari terakhir. Sebagian hot money tsb berasal dari bursa Thailand yg sedang mengalami krisis politik. 

Menurut IMQ, transaksi perdagangan juga mencatat deretan rekor transaksi terbesar tahun ini, sebanyak 115.708 kali, dengan volume 10,785 miliar unit saham, senilai Rp 4,294 triliun. Top gainer (Rp) DLTA, BBRI, BMRI, UNTR dan LSIP. Kondisi tersebut berimbas pada nilai tukar rupiah yang terus menguat hingga mencapai level Rp 10.600 per dolar AS.

Memang IHSG pantas mengalami kenaikan, terutama setelah berhasil menembus bearish channel-nya pada level 1425 an beberapa waktu yang lalu. Dipicu kenaikan harga minyak dunia yang mencapai USD 53/barrel dan adanya gejala pemulihan ekonomi AS serta sentimen hasil pemilu 2009. Sekalipun laporan keuangan emiten BEI mulai menunjukan penurunan signifikan disertai turunnya nilai ekspor hingga 35%, para investor mulai memborong saham guna mengatisipasi pemulihan ekonomi global pada 3Q09-4Q09. Investor melakukan pembelian secara selektif sesuai analisis fundamental dan arah indikator ekonomi sehingga kenaikan IHSG memiliki pola berjenjang tanpa gap yang besar.

Namun dalam 3 hari terakhir ini pola kenaikan IHSG dan LQ-45 bersifat sporadis bahkan saham bermasalah seperti BNBR, BUMI, UNSP dll ikut "digoreng" padahal fundamentalnya sangat meragukan. Kepada para traders dan investor, saya sarankan untuk lebih berhati-hati dan bijaksana serta tidak terlalu bernafsu (greedy) dalam trasaksinya minggu depan. Hal ini disebabkan IHSG sudah sangat rawan koreksi untuk menutup gap yang cukup signifikan. 

Happy Trading dan Salam Investasi.....

Minggu, 12 April 2009

Sayonara Mr. Bear?

PERDANA WAHYU SANTOSA

Sekitar 3 minggu lalu, Dow Jones melesak jatuh mencapai 6500 yang merupakan level terendah dalam 10 tahun terakhir karena ancaman frozen credit dari toxic asset diprediksi akan menggelembung.Para big boss pasar global, The Fed dan analis-analis kelas dunia tampak sepakat dan inline dalam memberikan komentar-komentarnya. Kecemasan dampak negatif dari aset beracun diprediksi masih menghantui pasar modal global dalam 2 tahun ke depan. Kejatuhan DJ seperti biasa diikuti oleh pasar global,namun pasar Asia tidak sedalam pasar Eropa dan AS. Mengapa? Diestimasi ekonomi China dan India masih mampu menjadi benteng pertahanan terakhir pasar regional.

Secara mengejutkan, harga minyak dunia kembali merangkak naik bahkan menembus angka psikologis US$ 50 dan bertahan pada kisaran $52-53/ barrel. Hal ini menciptakan ekspektasi baru bagi para investor untuk melakukan investasi pada lowest level sekalipun the bottom line is still missing? Alhasil, Dow Jones menggeliat kembali, perlahan tapi pasti menyentuh level keramatnya: 8000. Serta merta, karena adanya market correlation dan covariance, pasar global kembali mengikuti pergerakan sang titan Wall Street.

IHSG pun tak kalah kinclongnya dalam beberapa hari terkahir ini, setelah berhasil menembus bearish channel-nya di 14250, yang sangat berat untuk dilewati. Akhirnya disertai over ekspektasi pelaku pasar terhadap segera membaiknya indikator ekonomi Indonesia maka IHSG berhasil menembus level 1500 disertai turunya BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,5%. Seperti biasa, setelah mengalami strong rally beberapa hari terakhir maka aksi profit taking pun segera direalisasi oleh para big players. Namun hanya temporari saja, karena tahap berikutnya second liner akan dikoleksi juga untuk menutup gap intersection.

Secara substansial, apakah sudah saatnya kita berkata: Sayonara Mr. Bear?

Trading the Indicators: Be Your Own Analyst: Understanding Volume


Many technical traders will tell you that price is king. Everything comes down to price, and price is the most important indicator in and of itself. Experienced traders know that many technical indicators are simply price massaged, oiled and spit out into a fancy blue or red line at the bottom of one’s chart. But volume is a completely different animal. While you’d have to travel far and wide before you’d chance upon a trader who would say that volume readings are more important than price, they are useful and significant raw data readings that measure the amount of action and psychology of the market players. 

Volume, of course, simply is the measure of the number of shares of Intel or Qualcomm or any stock traded during a day. In the futures arena, volume measures how many corn contracts or S&P E-minis changed hands that session. For those who are trading on an intraday basis, 5-minute volume bars can be found, or for traders more comfortable with a longer-term view, weekly or monthly volume data can be called up just as easily. 

Newton’s Law

Remember back to high school physics. Newton’s first law of motion reflects the concept underlying volume analysis in the financial markets. This law says that an object in motion will stay in motion unless acted upon by an unbalanced force.

Thus, many technical traders call volume the fuel behind a market move. Is the gas tank full and providing powerful momentum for that Porsche speeding down the Autobahn? Or is the gas tank nearing empty, which means the engine is likely sputtering, and the driving machine is slowing and limping toward the shoulder of the road? For a trader who is looking to put on a stock trade from the long side, knowing how much gas is likely left in the tank is an important variable. After all, how many smart drivers set off for a long trip with only a gallon of gas left in the tank? 

Joe Granville, editor of the Granville Market Letter and developer of the popular volume tool called on balance volume (OBV) [we’ll get to this later…], puts it another way and says that volume “is the steam in the boiler that makes the Choo Choo go down the tracks.” 

Use It to Confirm

“Generally speaking, volume has to confirm price,” explains John Murphy, author and chief technician at Stockcharts.com. “When price breaks out to the upside [or downside], we normally like to see a nice pickup in volume to confirm that.” 

One of the basic rules of thumb for traditional volume analysis is that a healthy uptrend would see expanding volume on up days and contracting volume on down days. Just the opposite would be true for a downtrend. “When you get an exception to that, it can be a sign that trend is changing,” says Phil Roth, chief technical analyst at Miller Tabak & Co. Daily volume data is easy to find and can even be tracked via the Wall Street Journal, and most charting software packages offer an option for volume bars across the bottom of the chart. 

“A market rallying on light volume is a sign there isn’t as much bullishness. It is a hesitant market,” says Murphy. “When we don’t get volume, we get more suspicious.” 

Or another subtlety for which to be on the lookout is “big volume in an uptrend, but no price progress. That could be a signal that you’ve hit resistance,” adds Roth. The idea is that an unusual change in a volume pattern could signify a possible reversal. 

More Rules of Thumb

Some other basic rules of thumb in relation to volume are that bull markets tend to have bigger volume, while bear markets tend to have lighter volume. “Markets must be pushed up but can sink on their own weight,” notes Roth. In a downtrend, traders would like to see increasing volume on down days and decreasing volume on up days. 

Brian Shannon, director of research at Marketwise uses volume in his trading and analysis. He says “volume is second only to price. Price is what pays, and volume lets us know about the emotional condition of the buyers and sellers.” 

Shannon highlights a couple of his favorite reflections on volume:

1.Big volume without further upside equals distribution;

2.Big volume without further downside equals accumulation;

3.Volume tends to peak at turning points;

4.Volume often precedes price movement;

Volume is a relative study.

Shannon outlines an example for a stock that is rallying. "You'd like to see that stock advancing on increasing volume each day, say 600,000 the first day, a million the second day and a million-five the third day. Price pullbacks should see successively lower volume, such as 900,000, 600,000 then 450,000" to reflect a healthy advance. 

One of the old market adages says that once a trend is established, it is more likely to continue than to reverse. "That is even more likely to be true if pullbacks are on declining volume," says Shannon. For traders who may have missed an entry opportunity on a breakout, if a stock posts a retreat on declining volume, that may offer a second entry opportunity for a trend move. 

Divergence

Themes that come up over and over again in the field of technical analysis are the concepts of confirmation and divergence. Divergence often is used in the world of oscillator readings with such tools as stochastics or the relative strength index. Simply, the idea with those tools is that with a bullish trend, one should see rising oscillator readings. When that doesn’t occur, a divergence occurs, and that is an important “red flag” warning signal that trend could be about to change. Example? – if a price made a new high in an uptrend, but stochastics failed to make a new oscillator high and actually turned lower. That would represent a bearish divergence.

Take that concept and apply the same principle to volume. For example, in a bull trend, does a stock or a commodity price hit a new high for the rally move, but declining volume is seen for that session? Red flag time.

Blow-Off and Climax

Now for the exciting stuff: blow-offs and climaxes. Blow-offs tend to occur at major market peaks, while climaxes emerge at market bottoms. These terms simply reflect a huge amount of volume that emerges late in a market rally (or decline) with a sudden peak. Prices then abruptly reverse. 

“Volume tells me where the action is. It shows me the collective psychology of the participants if they are fearful or overly optimistic,” says Shannon. However, “it’s tough to say what a climax or blow-off is until after it is over.” 

Confirm Pattern Breakouts

Another use of volume analysis is to incorporate volume readings along with pattern breakouts. For those schooled in traditional pattern analysis, volume can be a helpful confirming indicator for double bottom or top, flag, triangle or any type of pattern breakout. How does it work? Jordan Kotick, global head of technical analysis at Barclay’s Capital says that for him, “Volume shows conviction. Is there conviction in a move?” 

Combining a price breakout with a volume confirmation simply helps a trader to see if there is conviction behind that price breakout. Let’s say that corn futures have been in a downtrend. But because markets don’t ever simply go straight up or down, the bear trend takes a pause, prices consolidate for several weeks, and a continuation triangle develops on the daily chart. Then one day, traders wake up and corn breaks out to the downside of that triangle, blasting below the lower triangle line at the final bell. On that day, traders could look for a high-volume day, a large and long volume bar, relative to the recent sessions. A high-volume day would be viewed as “confirmation” to the downside breakout of that pattern. 

Drill a Little Deeper

For those wanting to take volume analysis to the next step, traders could study what is called upside volume, versus downside volume, when analyzing the major U.S. stock averages. Just as it sounds, the upside/downside ratio simply reveals the relationship between the total volume of advancing shares, versus the total volume of declining issues. 

On Balance Volume

There are a variety of tools and ratios based on volume, but one of the early volume indicators, developed by Joe Granville in the early 1960s, is known as OBV. This tool can help traders avoid the subjective nature of “eyeballing” those volume bars streaming across the bottom of the chart. (Is that one slightly bigger or smaller?) The OBV indicator turns the volume data into a line graph, which can be displayed across the bottom of one’s chart. Traders actually can draw trendlines on the OBV indicator just like a price chart. When the OBV turns and breaks that trendline, it can signal a potential turning point in price. It also can be used like an oscillator to help pinpoint divergences between price highs and volume peaks or price lows and volume troughs. 

“If price is moving up, OBV should be moving up, too,” explains Murphy. He also notes that OBV could actually be a leading indicator. “OBV can break out before the stock does,” Murphy says. 

The calculation behind the OBV is extremely easy to understand even for those who are as math-challenged as this author. The total volume for a session is given a plus or minus value depending on whether prices closed higher or lower that day. A higher close would result in the volume to be counted as a “plus,” while a lower close would result in a “minus” value. Thus, a running total is achieved by simply adding or subtracting volume depending on direction of the market close. 

For those who are just beginning to use volume as part of their analysis and trading, Granville advises students to “pick a stock, preferably a well-known stock. Follow it every day in the newspaper. Keep a running total of volume. If it closes up, add all the volume of the stock traded that day. If it closes down, subtract the volume of that day from the previous figure. You’ll see a running commentary on the action of the stock. You’ll see the evidence that volume precedes the price trend.” 

Equivolume Charts

Volume analysis has spawned a range of indicators and even a new type of charting technique, called equivolume bars. This type of chart actually combines price and volume into one bar or box. For those familiar with Japanese candlestick charts, the concept is somewhat similar. Basically, the top of the equivolume box represents the day’s price high, while the low is seen at the bottom of the box. The width of the box represents the day’s volume. The wider the box, the heavier the volume during that session. “By just glancing at the bars, you can tell which days have heavier volume,” explains Murphy. 

Add Open Interest to the Mix

Traditionally, some technical analysts have combined volume with the study of open interest, which simply refers to the number of outstanding contracts still open at the end of the trading day in the futures markets. With the advent of 24-hour markets and the rise in popularity of foreign exchange trading among individual traders, the study of open interest appears to have waned somewhat. But for those wanting to understand the basic rules of thumb, they still apply. 

Traditional Open Interest and Volume Guidelines:
  • If prices are rising and volume and open interest are increasing, it represents a strong market;
  • If prices are rising while volume and open interest are falling, it reveals a weakening market;
  • If prices are falling while volume and open interest are increasing, it represents a weak market;
  • If prices are falling while volume and open interest are falling, it represents a strong market.

Don’t Make This Mistake

According to Marketwise’s Shannon, one of the biggest misuses of volume is an interpretation when a stock is declining. Let’s say a trader is long a stock and price begins to pull back. “People convince themselves to hold on because it [the pullback] is on light volume,” Shannon says. But that may not be the best way to manage a trade. “Would you rather lose ten percent of your money on light volume or big volume?” asks Shannon. He instead advises traders to exit a position “based on price action.” 

Another common mistake is that many traders could point to a heavy volume day and be convinced that it is a climax or blow-off day. “Most people end up misreading big volume,” says Shannon. “Just because it is the biggest volume in three days, doesn’t mean the move is over. Volume could be even bigger the next day.” 

Timing Is Everything

Typically, trading in the stock market (and the futures on the major stock indexes) sees the heaviest volume during the first hour-and-a-half of the day and then the last hour-and-a-half of the day. Traders can use this generality to help them in their intraday trading. “The midday doldrums occur because institutional traders are waiting you out,” warns Shannon. Often times, major institutional players will execute large portions of orders in the morning, and then wait for heavy volume and renewed trending action late in the day to finish orders. 

This can be helpful information for those who are trading very short term on an intraday basis. “If you are a hyperactive trader and have to take your profits, take them during the first move in the morning,” says Shannon. There may be another opportunity during the second late-day wave of action. Otherwise a trader who bought, say, the S&P E-mini early in the day and saw some profits in that trade, may slowly watch that profit erode during the lunchtime doldrums, as prices simply tick slowly lower. For those who get spooked on pullbacks or don’t have the patience to wait for the afternoon move, it may be wise to simply book the profits early on. 

Closing Thoughts

Here are a few more tidbits on incorporating volume into your trading and analysis. 

Use volume simply as a screening tool. For those who are scanning thousands of stocks looking for a good trading opportunity, volume can help distinguish between those that are in an uptrend or downtrend (depending on whether one is looking for long or short trades). How? Those stocks with the best volume profile or pattern can help weed out the stocks most likely to continue with that trend. 

Barclay’s Kotick closes with another tip for beginning volume followers. “It’s not the level of volume that is key, it is the trend of volume. Look at it over a range of time.” One day of volume can’t be viewed in a vacuum. Volume analysis is most useful when compared to previous sessions. Some like to say volume is simply a reflection of supply and demand. A high-volume day simply reflects more demand in the marketplace. But overall, traders and analysts note that volume should be used as a confirming indicator. Most still agree that price remains the most important factor to consider while trading. Volume may offer up warning signals, red flags or generate trading ideas. But use it as a supplementary tool. 

If you’ve haven’t incorporated volume readings or analysis into your trading, it may be worth exploring. “Volume is very useful and important. You can’t do good technical analysis without looking at volume,” concludes Murphy. 

Increase Your Odds with Multiple Time Frame Analysis

Two or more time frames are better than one when it comes to technical analysis. Here’s how to make the most of time frames.

We have all heard the market cliché “the trend is your friend” and for good reason. Making big money in the markets is accomplished by entering a position at the onset of a new trend and then having the patience to hold the position long enough to allow the profit to accumulate into a large winner. Participation in a long-term trend is the dream of every investor. To have a huge winner that we believed in and held well beyond the point where most participants would have been shaken out on a short- term pullbacks is what allows successful investors to reap large gains. 

Many investors may find their most satisfying winners in a three-year hold. But that time frame does not fit all market participants. There are those of us who believe that long-term capital gains should be recognized after just a few days. For those traders, three years seems like a lifetime! Short-term trading can produce outsized returns, as long as losers are properly managed and winners are larger than the losers (but then again, that is true for any time frame). 

Don’t Fight the Tide

In order to attain larger winners than losers, the easiest way to get the odds in your favor is to trade with the primary trend, regardless of whether you are an investor or a trader. Think of the most basic definition of an uptrend, which is price making “higher highs and higher lows.” In an uptrend, the sum of the rallies will always be greater than the sum of the declines; otherwise the trend would not be intact. The opposite is true for a downtrend; the sum of the declines will always be greater than the sum of the rallies, which obviously makes the short side more profitable in a down-trending stock. The simple math of trends is the biggest argument for why it makes sense to participate in moves that are aligned with the direction of the primary trend, rather than trying to pick tops and bottoms. Even if one can accurately predict turning points in a market, the reward will not be as great as it would be if one were participating in the trend. 

A Market Can “Correct” in Two Ways

The way that markets correct is another factor that stacks the odds against those who attempt to profit by trading against the trend. For those who are beginning technical traders, there are two ways markets can correct after a move in either direction. 

The first type of correction is one that occurs by price. For example, an up-trending market will experience a pullback in price, or a down-trending stock will experience a short-term rally before the primary trend re-exerts its dominance. The other way a market corrects is through time, meaning that instead of a countertrend move, the market will trade sideways as the buyers and sellers battle it out for control. A correction through time is typically marked by low volatility in a tight range, which can frustrate the person anticipating a reversal. Because numerous trends are often prevalent in a given market, the surest way to stack the odds in your favor is to use multiple time-frame analysis for trend alignment, before risking your capital.

In theory, trend trading is simple: Buy low and sell high for longs, and sell high and buy back low for short positions. In reality, many traders find trend trading frustrating because they are not focusing on the right trend. A little over one hundred years ago, Charles H. Dow wrote a series of editorials in The Wall Street Journal in which he laid out his views of how the stock market works; collectively these writings are referred to as “The Dow Theory.” The work of Dow is still referred to today and is the underlying premise of technical analysis.

Three Types of Trends

One of the foundations of the Dow theory is the identification of three types of price trends: the primary trend, the secondary trend and minor trends. The primary movements were compared to oceanic tides. They are the main trend of the market whose duration can last from a few months to several years. Primary trends cannot be manipulated, as the forces of supply and demand are too large for any one participant to successfully influence the collective reasoning of the crowd. Secondary movements were referred to as waves and they are known as reactionary moves, trends that typically last from two weeks to three months. The secondary movements are often created by a large participant (mutual fund, hedge fund, etc.) exiting all or a significant part of their position; once that supply (in an uptrend) is absorbed by the market, the buyers regain control and the stock continues higher in the primary trend. Finally, minor (or short-term) trends were viewed as insignificant ripples, which lasted less than two weeks and were given little significance because they represent fluctuations in the secondary trend. The short-term ripples in the market can be difficult to predict because they are often driven by emotions. However, skilled day traders thrive on this type of emotional short-term movement.

Pick Your Trend

One of the most important elements in successful trend trading is to determine which trend to focus on. Deciding which time frame to engage the market is largely determined by individual factors. These include time available to commit to the markets, capital base, experience level, risk tolerance and even one’s level of patience. Investors are naturally attracted to the primary movement, while the secondary moves are going to be the focus of a more intermediate-term participant (swing traders). And, the minor trends will be the obvious choice of day traders. Even as simple as that concept may seem, it becomes more complicated because technical analysis is about timing, and you must look at more than one time frame if you are truly to have the odds in your favor. 

In order to make timing decisions that will allow you to determine a low-risk area to get involved and still have large profit potential, it is essential to conduct your analysis on multiple time frames. We will now explore three different time frames that investors, swing traders and day traders should look at. To make this analysis real we will use an example of a current setup in the market as if we were going to enter an investment or a swing trade. Because of the short-term nature of a day trade we will outline the time frames to consider but will not study an actual trade setup (see Table 1).



Whether you are an investor, swing trader or day trader, the first time frame that should be studied is one that represents the primary trend. The longer, more powerful trends are the ones that you want to be sure not to fight, as mistakes can be quite costly. The long-term time frame is not about timing, it is about idea generation. For an investor, the time frame to start with is a weekly chart that encompasses at least two years worth of data. Looking at Figure 1, the weekly chart of Stats Chippac Ltd. (STTS) shows the stock has been bottoming out over the last 18 months. The recent increased volume suggests the stock may be ready for a sustained move higher that could see the stock trade near the 10-level. This is the type of chart that should get an investor interested in further study on shorter time frames (of course having a fundamental reason for being involved, in this case increased earnings and revenues, is always a bonus.) 



The primary trend for a swing trader will not be quite as long term as it would be for an investor; this is why the swing trader’s analysis of a long-term trend should take place on a daily chart, which shows at least 150 days of data. A swing trader would have good reason for being bullish on the daily trend of STTS as the stock is in a strong up trend, which is defined by a strong volume pattern and the stock holding above rising key moving averages (see Figure 2). It is also very encouraging to bullish traders that the stock found support at the prior level of resistance near $7.20 on a recent low-volume pullback.



Drilling Down

Day traders will find it necessary to bring their analysis of a long-term trend to an even shorter period of time. That can be accomplished by studying price action on a 60-minute chart, which shows price movement over at least 25 days. The 60-minute chart of STTS (see Figure 3) is telling day traders a similarly bullish message as was seen on the weekly and daily time frames. The 60-minute time frame shows that the buyers have once again taken control of the stock by pushing past the short-term resistance at $7.30. Notice how this action has also turned the moving averages higher; confirming that the short, intermediate and longer-term trends of this time frame are now higher.



Look Left

The units of time studied in these examples are starting points. It is often necessary to look “further to the left” to see older data that may be relevant to the primary trend. The goal of the long-term time frame is to allow the participant to recognize signs of a new trend or a stock that appears to be early on in an established trend, and then move to a shorter time frame for further confirmation of a reason to get involved in an actual trade.

Once the stock has been identified as a viable candidate for a commitment of capital, the next step is to determine key levels of support and resistance, which brings our analysis to the secondary time frame. A trader must first identify the existence of a primary trend, using the appropriate longer-term time frame. The next step for a trade set-up is to determine if there is sufficient potential for reward relative to the perceived risk, essentially this is where we plan our trade. The evaluation of the risk/ reward scenario should take place on an intermediate term time frame that allows for easier recognition of levels of support and resistance, which might not have been visible on the longer-term Time fram. 

To view the secondary trend, an investor would study the action on the daily Time fram of STTS (Figure 2). On the daily chart, the investor should notice that the stock recently rallied from 7.00 to 7.60 on heavy volume and then experienced a lower volume pullback to previous resistance at 7.20. At this point, it appears the 7.2 level is where there should be good support for the stock, but the investor may want to set a stop under the rising 20-day moving average (MA) which is now at approximately 7.10, this would give the investor a theoretical risk of approximately $0.40. Setting the stop under the 20-day MA instead of under the support at 7.20 exposes the trade to more risk, but it also reduces the chance of getting stopped out of the position prematurely. 

Coming up with an upward price objective could not be done on the daily time frame because of the limited price action above 7.00, so the investor would have to revert back to the weekly time frame (Figure 1) to come up with an initial target near 8.20, which is the high for the stock in 2004. Because the stock had limited trading history at the 8.20 level it is unlikely that the resistance would be very strong, thus making a target closer to 10.00 more feasible. Even the 10.00 level could prove to be conservative as there is further potential for the stock to rally up towards 12.00 which was a support level broken in late 2003. Whether the stock eventually rallies up towards ten or twelve, the risk of getting involved with a stop of just $.40 makes this a very attractive long side candidate.

Finding Support and Resistance

After identifying STTS as a good potential swing trade candidate on a daily time frame, the intermediate-term trader would then drill down the analysis of support and resistance by looking at the hourly time frame (Figure 3). The way a swing trader should interpret the action seen on the hourly chart is that the stock is in an ideal area for purchase as the buyers have just regained control of the trend on this time frame. By clearing the short-term resistance at 7.30, the buyers are back in control of the intermediate-term trend, and the stock now has strong upward momentum, making it an excellent candidate for a swing trade. The minimum upward objective for the swing trade would be the recent highs of 8.20 and determination of where to set the stop would come from an examination of the minor trend, which can be seen in Figure 4.



The final time frame to be studied is the minor trend. The goal on this time frame is to capture a more accurate entry price. The minor trend for the investor is found in Figure 3, the hourly time frame. If the investor is looking to enter the stock while it exhibits upward strength, he may choose to enter at the same level the swing trader was targeting at, 7.30. 

A swing trader should analyze the short-term trend by studying price action on a ten-minute chart, which covers ten days of trading activity. As we saw on the 60-minute chart, the ideal purchase would have occurred as the buyers gained control of the short-term trend when they pushed the stock past short-term resistance at $7.30; the ten-minute time frame shows this level in greater detail. While the ten-minute time frame does not offer any particular advantage over the 60-minute time frame in the case of STTS, it does often provide greater detail that allows us to fine tune not only our entry price but also where to place our initial protective stop.

Multiple Time frame Analysis Can Help

The concept of using multiple time frames for trading is one every market participant should consider because it allows for a greater level of objective analysis of what the market is actually doing, rather than relying on our opinions to make important trading decisions. Using three different time frames allows market participants in all time frames to find the idea (primary trend), create a plan of action (secondary trend), and capture more accurate entries (minor trend). In the end, multiple time frames allow us to become better at holding our winners and cutting our losers, a goal common to all market participants.